MALANG RAYA – Hari ini (24/3), dunia memperingati Hari Tuberkulosis (TBC) untuk membangun kesadaran akan bahaya penyakit tersebut. Sebab jumlah kasus dan orang yang diduga mengidap penyakit TBC itu meningkat dari tahun ke tahun.
Di Malang Raya, jumlah penderita terbanyak ditemukan di Kabupaten Malang. Dalam tiga bulan pertama 2023 saja, di Kabupaten Malang sudah tercatat 618 orang yang terserang TBC.
Tahun-tahun sebelumnya malah menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi. Misalnya, dari 2021 hingga 2022, kasus terkonfirmasi TBC meningkat hingga 48,86 persen. Di antara angka tersebut, 8-12 persen penderitanya masih anak-anak.
”Tahun 2022, orang yang terduga TBC malah sangat banyak. Lebih dari 34 ribu orang,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah.
Dia menjelaskan, bakteri TBC menyerang paru-paru dengan salah satu cirinya adalah batuk-batuk. Sehingga, orang yang batuk dapat dikategorikan sebagai terduga TBC.
Untuk memastikannya harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut agar bisa disimpulkan diagnosis terakhir. Seperti pemeriksaan dahak dan sinar x di dada.
Baca Juga : Gencarkan Deteksi Dini TBC.
Perempuan yang akrab disapa Chair itu memaparkan, faktor yang mempengaruhi peningkatan kasus TBC ada tiga. Yakni individu, lingkungan dan sosial ekonomi, serta aksesibilitas layanan kesehatan.
”Peningkatan kesadaran untuk berobat itu sangat penting,” kata dia. Sebab, TBC dapat disembuhkan dengan pengobatan intensif.
Selain itu, masyarakat juga harus mengetahui penyakit beserta efek sampingnya. Khususnya penyakit yang menyebabkan imunitas tubuh lemah melawan infeksi bakteri.
Status gizi dan gaya hidup juga mempengaruhi peningkatan kasus TBC di Kabupaten Malang.
”Yang tidak kalah penting itu keadaan rumah, kepadatan hunian, dan sanitasi lingkungan,” imbuhnya.
Sebab, di Kabupaten Malang juga masih banyak rumah yang tidak layak huni (RTLH). Setidaknya sekitar 10.000 unit RTLH tersebar di Kabupaten Malang. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Untuk mengatasinya, Pemkab Malang menyediakan anggaran yang cukup banyak. Berdasar penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2023 Kabupaten Malang, tercatat Rp 1,33 miliar untuk pengelolaan pelayanan kesehatan orang terduga TBC.
Penanggulangan TBC juga dilakukan berbasis kewilayahan. Dengan cara itu, pengakses layanan TBC juga meningkat.
Sebab pasien tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit di pusat kabupaten. Chair mengingatkan bahwa bakteri TB ditularkan melalui cairan atau cipratan liur (droplet) yang terinfeksi melalui udara.
Begitu droplet memasuki udara, siapa pun di dekatnya dapat menghirup bakteri tersebut. Seseorang dengan TBC dapat menularkan bakteri melalui bersin, batuk, berbicara, dan nyanyian.
”Karena itu, bagi penderita TBC wajib menggunakan masker ketika berada di sekitar orang, terutama selama tiga minggu pertama pengobatan. Cara itu dapat membantu mengurangi risiko penularan,” ujarnya.
Pesantren dan Lapas Berisiko Tinggi
Sementara itu, Kota Malang menduduki posisi kedua jumlah penderita TBC di Malang Raya. Selama tiga bulan terakhir sudah tercatat 376 kasus.
Selama tiga tahun sebelumnya, yakni 2020-2022, jumlah penderita TBC juga mengalami peningkatan.
Menurut Sub Koordinator Sub Substansi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Bayu Tjahjawibawa, peningkatan kasus TBC bisa disebabkan berbagai faktor. Salah satunya kondisi lingkungan yang kurang baik.
”Untuk itu, kami berupaya mencari tahu ke tempat-tempat yang berisiko tinggi. Misalnya, pondok pesantren dan lembaga pemasyarakatan,” sebut Bayu.
Jika ada penderita yang positif, maka akan dilakukan investigasi kontak. Investigasi kontak ditujukan bagi 15-20 orang yang melakukan kontak erat dengan penderita yang positif.
Selain orang yang kontak erat, pemeriksaan TBC biasanya dilakukan kepada kelompok berisiko. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Meliputi anak-anak, orang dengan HIV/AIDS (ODHA), orang lanjut usia, penderita diabetes mellitus, dan perokok.
Terkait pengobatan, Bayu menjelaskan bahwa penderita TBC bisa mendapatkan obat secara gratis melalui puskesmas atau dinkes. Demikian pula tes untuk mendeteksi TBC, yakni tes cepat molekuler.
Ditambahkan Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif, pihaknya telah meminta 16 puskesmas membuka pelayanan perawatan TBC. Dinkes juga bekerja sama dengan dokter praktik mandiri (DPM) dan klinik.
”Kalau kondisinya sudah parah, rujukan medis bisa dilakukan ke sejumlah rumah sakit,” terang pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.
Terpisah, spesialis paru-paru RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) dr Christian Surya Eka Putra SpP berpendapat penanganan TBC di Malang Raya sudah lebih baik.
Saat ini pengobatan pasien TBC mengacu pada panduan terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2021. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Pada pengobatan yang sebelumnya, fase lanjutan (bulan ketiga sampai enam) diberikan dosis obat sebanyak tiga kali dalam seminggu. Namun, pada panduan terbaru, fase lanjutan dosis obat yang dikonsumsi menjadi setiap hari.
Jenis obat anti-TBC yang dikonsumsi masih sama. ”Bedanya ada pada cara menegakkan diagnostik,” kata dia.
Sebelumnya, untuk menegakkan diagnostik dilakukan dengan tes cepat molekuler dan Mikroskopis BTA. Namun regulasi terbaru hanya mewajibkan tes cepat molekuler (TCM).
Mikroskopis BTA merupakan pemeriksaan dasar dengan melihat ada atau tidaknya bakteri mycobacterium tuberculosis. Sedangkan TCM menggunakan prinsip pemeriksaan teknik PCR.
TCM bisa mendeteksi apakah bakteri yang ada sensitif terhadap obat TBC, yakni rifampicin atau sudah resisten.
”Kalau masih sensitif, maka penderita TBC diberikan obat anti TBC lini satu. Sebaliknya, kalau sudah resisten maka penderita masuk klasifikasi TB RO (resisten obat),” jelas Surya.
Baca Juga : 2.518 Warga Kabupaten Terpapar TBC.
Pada penderita TB RO juga ada pemeriksaan lain lanjutan yang dilakukan. Tak hanya untuk orang dewasa, kasus TBC pada anak-anak juga perlu diwaspadai.
Di Kota Malang, selama 2020-2022 terdapat peningkatan yang cukup drastis. Tertinggi pada 2022, yakni 305 kasus. Kewaspadaan perlu ditingkatkan karena cara diagnostiknya lebih sulit.
”Untuk diagnosisnya, kami lebih sering menggunakan gejala klinis dan foto rontgen. Walaupun hasil pemeriksaan dahaknya negatif,” kata spesialis anak RSSA dr Ery Olivianto SpA(K).
Sejauh ini, Ery melihat ada perkembangan dalam tata laksana TBC pada anak-anak. Misalnya, pengobatan menggunakan regimen yang lebih pendek waktunya.
Kemudian, diagnosis TBC laten melalui Interferon-Gamma Release Assays (IGRA) dan teknologi AI untuk interpretasi foto.
Namun kedua cara itu belum digunakan secara luas. Selain itu juga belum memungkinkan untuk program nasional. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Pencatatan kasus TBC juga sudah terpusat dalam sistem informasi TB (SITB). Yang menjadi pekerjaan rumah adalah penanganan TBC di Malang Raya perlu ditingkatkan.
Yakni dalam penemuan kasus hingga skrining pada anak-anak yang berisiko.
Tekan Stigma Masyarakat
Kota Batu juga mengalami tren kenaikan jumlah penderita TBC. Utamanya dari tahun 2021 yang tercatat 138 kasus ke 2022 yang mencapai 303 kasus.
Kenaikannya lebih dari 100 persen. Untuk tiga bulan pertama 2023, yang ditemukan sudah mencapai 36 kasus.
Kabid Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr Susan Indahwati menjelaskan, kendala utama skrining penyakit TBC adalah stigma negatif masyarakat.
Akibatnya, orang yang kontak dengan pasien TBC selalu menolak diperiksa. Hal ini menyebabkan sulitnya pemutusan mata rantai penularan TBC.
Padahal, penyakit TBC tidak menyerang usia tertentu. ”Ya, semua orang bisa berisiko terkena TBC. Secara umum, diperkirakan 12 persen kasus TBC adalah usia di bawah 15 tahun,” ungkapnya.
Pengelola Program TBC Dinkes Batu Yoni Hadi Purnomo menerangkan, program skrining TBC perlu digencarkan secara menyeluruh. Jika prioritasnya dijalankan oleh semua pihak, maka Indonesia bisa sukses dalam eliminasi TBC 2030.
”Pada 2023 diperkirakan ada 471 pasien TBC di Kota Batu yang harus ditemukan dan diobati. Namun, Januari hingga Maret 2023 baru ditemukan 36 pasien TBC," jelasnya.
Dengan perkiraan adanya ratusan pasien TBC di Kota Batu, Yoni mengingatkan perlunya sinergi dari kecamatan, desa, atau kelurahan. Utamanya untuk mendorong masyarakatnya segera memeriksakan diri jika ada gejala batuk berdahak.
Termasuk beberapa pihak dari kelompok berisiko, seperti sekolah berasrama, pesantren, hingga pasar. (yun/mel/ifa/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana