KEPANJEN - Banyaknya warga yang mengidap diabetes dan hipertensi membuat Pemkab Malang menyiapkan langkah antisipasinya terhadap warga.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang menargetkan skrining 1,6 juta jiwa.
Dalam kurun enam bulan, JanuariJuni 2024 lalu, 30 persen di antaranya atau 480 ribu jiwa terskrining.
Ada sembilan penyakit tidak Menular (PTM) masuk sasaran skrining.
Selain diabetes mellitus (DM) dan hipertensi, juga penyakit stroke, jantung, kanker serviks, kanker payudara, obesitas, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan gangguan indera mata dan telinga.
Baca Juga: Waspadai Diabetes pada Usia Remaja, Kasus Diabetes di Malang Raya Cenderung Fluktuatif
“Skrining dilakukan untuk penduduk usia 15 tahun ke atas hingga lansia dan wajib tercapai 100 persen,” ujar Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular (PTM) Dinkes Kabupaten Malang Paulus Gatot Kushariyanto.
Dia menyebutkan, skrining tersebut sebagai deteksi dini faktor risiko PTM.
Terutama diabetes dan hipertensi yang menjadi faktor risiko komplikasi penyakit lain.
Pada pertengahan tahun ini, penderita dua penyakit tersebut yang tertinggi.
Gatot menyebutkan, penduduk penderita hipertensi diestimasikan 162.240 jiwa atau 10,14 persen dari total 1,6 juta penduduk usia produktif dan lansia.
Dari jumlah tersebut, sudah ditemukan sekitar 97.344 orang atau 60 persen dari jumlah yang diestimasikan.
Sedangkan penderita diabetes diestimasikan 28.800 orang atau 1,8 persen dari total 1,6 juta penduduk usia produktif dan lansia.
Skrining dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan (faskes).
Mulai dari Pos Binaan Terpadu (Posbindu) di tingkat desa, puskesmas, dan rumah sakit (RS).
Kader posbindu tersebut sebelumnya sudah menerima pelatihan dari Dinkes Kabupaten Malang.
Mereka juga sudah memiliki alat untuk mendeteksi kadar gula darah, kolesterol, tensi darah, dan pemeriksaan dasar lainnya.
Namun yang menjadi kendala, peserta skrining masih didominasi ibu-ibu dan lansia.
Sementara mayoritas penduduk usia produktif lebih memilih untuk bekerja.
“Makanya kami jemput bola untuk melaksanakan skrining kantor-kantor, perusahaan, dan pabrik,” ucap Gatot.
Skrining tidak hanya berhenti di proses pendataan.
Jika memang ada penduduk sasaran yang berisiko stroke akan segera dirujuk ke rumah sakit untuk menerima penanganan lebih lanjut. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana