SURABAYA – Diabetes melitus (DM) masih menjadi penyakit tidak menular dengan jumlah pasien terbanyak yang ditangani RSUD dr Mohamad Soewandhie.
Selama triwulan pertama 2025, prevalensi DM mencapai 8.414 pasien.
Disusul pasien stroke dan hipertensi.
”Prevalensi diabetes mencapai 30 persen, paling banyak. Stroke sebanyak 3.999 pasien atau 14,36 persen, dan hipertensi mencapai 3.266 orang atau 11,73 persen,” tutur dr Listyorini Rarasingtyas, Kepala Bidang Pelayanan Medik, Keperawatan, Pendidikan, dan Penelitian RSUD dr Soewandhie kepada Jawa Pos.
Beragam layanan disiapkan untuk memastikan pasien penyakit tidak menular (PTM) mendapatkan penanganan optimal, dari tahap deteksi hingga terapi lanjutan.
Mulai rawat jalan, rawat inap, pemeriksaan penunjang radiologi dan laboratorium, tersedia.
Termasuk layanan unggulan seperti Fast Track Chest Pain, Code Stroke, Onkologi Center terpadu, dan layanan radioterapi dengan alat canggih.
Ditanya alur pemeriksaan pasien PTM, dr Listyorini menjelaskan, pasien BPJS umumnya sudah memiliki rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) kepoli spesialis yang sesuai dengan diagnosis.
Sedangkan pasien yang masuk bersifat kedaruratan PTM, maka langsung ditangani oleh Instalasi Gawat Darurat (IGD).
”Lanjut ke rawat inap apabila benar-benar memerlukan ya,” imbuhnya.
Selain pelayanan medis, RSUD dr Soewandhie juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat.
Penyuluhan rutin digelar di ruang tunggu poli, di media sosial rumah sakit, dan dalam kegiatan luar seperti bakti sosial.
Langkah ini sebagai pencegahan dan deteksi dini.
Dia menyebut, konseling kesehatan juga tersedia.
Tak hanya dilakukan oleh psikolog klinis, namun juga oleh dokter dan ahli gizi.
”Misalnya, pasien diabetes mendapat edukasi diet, pasien jantung dibantu manajemen stres, pasien kanker atau stroke mendapat pendampingan psikologis,” ujarnya. (zam/nor/adn)
Editor : A. Nugroho