KEPANJEN - Penurunan stunting (pertumbuhan terhambat) menjadi pekerjaan rumah (PR) besar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dalam bidang kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama lintas sektor untuk menurunkan angka stunting tersebut. Salah satunya melalui pemberian makanan tambahan (PMT).
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengungkap, per Februari lalu tercatat 9.829 anak teridentifikasi stunting. Dari 156.948 anak yang diukur, sekitar 6,26 persen masuk kategori stunting. “PMT itu bisa dari puskesmas maupun desa dengan menganggarkan dari ADD (Alokasi Dana Desa). Kami akan memantau pelaksanaannya,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo kemarin.
Biasanya, PMT diberikan dalam bentuk makanan ringan bergizi. Desa Ternyang misalnya, memberikan kue kering berbahan dasar tepung kelor dan tepung lele. Kue kering tersebut dibentuk semenarik mungkin sehingga anak-anak mau memakannya. Misalnya menyerupai karakter monster berwarna kuning atau kue kering kelor yang diberi toping cokelat.
Selain itu, dia menyebut, peran PKK desa dan kader-kader kesehatan juga harus ditingkatkan. Salah satunya melalui rembug stunting, baik tingkat kecamatan maupun desa. “Rembug stunting juga sebagai wadah bagi kader untuk diskusi terkait temuan dan perawatan stunting,” kata pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Peran dari posyandu juga sangat penting. Utamanya saat pengukuran berat dan tinggi badan anak. Dia menyebut, penanganan stunting seharusnya tidak berhenti saat penimbangan. Setelah ditemukan anak dengan indikasi stunting, harus ditindaklanjuti. Seperti pemantauan gizi secara berkala.
Oleh karena itu, dinkes akan terus menggalakkan puskesmas. Anak yang teridentifikasi stunting dalam penimbangan akan mendapat perhatian khusus, termasuk pemenuhan gizi. Harapannya, tahun depan bisa zero stunting. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho