KEPANJEN - Di Kabupaten Malang, total ada 11 permasalahan kehamilan yang dicatat Dinas Kesehatan (Dinkes). Seperti Kekurangan Energi Kronis (KEK), anemia, preeklamsi, diabetes mellitus (DM), dan penyakit jantung. Selanjutnya ada infeksi tuberculosis (TB), HIV reaktif (AIDS), HBsAg reaktif (hepatitis B), sifilis reaktif, dan obesitas.
Permasalahan kesehatan tersebut dapat menyebabkan kematian pada bayi yang baru lahir. Yang berusia kurang dari 28 hari atau biasa disebut bayi neonatal. Menurut data Dinkes Kabupaten Malang, terdapat 582 bayi neonatal yang meninggal selama dua tahun. “Pada 2024 lalu ada 345 anak. Sedangkan tahun ini, dari Januari sampai September sudah ada 237 anak yang meninggal,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinkes Kabupaten Malang Gunawan Djoko Untoro (selengkapnya baca grafis).
Terdapat tiga penyebab utama bayi meninggal. Yakni respiratory cardiovascular disorder, Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan prematurity (bayi lahir prematur), serta infeksi. Respiratory cardiovascular disorder yakni kendala medis yang memengaruhi sistem jantung dan pembuluh darah, serta sistem pernapasan (paru-paru).
“Kondisi itu menjadi penyebab kematian bayi terbanyak di Kabupaten Malang. Tahun ini saja sudah ada 102 anak yang meninggal karena kondisi tersebut,” lanjut dia. Sedangkan BBLR yakni bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram atau 2,5 kilogram. BBLR juga sering dikaitkan karena bayi terlahir prematur. Yakni kelahiran yang terjadi sebelum minggu ke-37 kehamilan.
Padahal, idealnya, ibu hamil melahirkan pada usia kehamilan 40 minggu. Penyebabnya pun sulit diprediksi. Namun, terdapat beberapa kondisi ibu hamil yang menyebabkan kelahiran prematur. Seperti diabetes dan penyakit jantung.
Sementara, infeksi neonatal biasanya disebabkan oleh bakteri, termasuk pneumonia dan meningitis. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak kondisi lainnya, infeksi neonatal perlu diwaspadai. Sebab, menurut data World Health Organization (WHO), infeksi neonatal menyebabkan lebih dari 550.000 kematian bayi setiap tahunnya.
Sebagai bentuk penekanan terhadap jumlah kematian bayi, berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Malang. Di antaranya dengan meningkatkan status kesehatan maupun gizi ibu hamil. “Kami mendampingi ibu hamil mulai dari Posyandu yang rutin mengukur kehamilan dan gizinya,” kata pejabat eselon III B Pemkab Malang itu.
Selain itu, diberikan juga pendampingan bagi ibu hamil risiko tinggi (risti) maupun Kekurangan Energi Kronis (KEK). Yakni kondisi ketika ibu hamil mengalami kekurangan asupan gizi berkelanjutan. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin.
Pendampingan tersebut diberikan oleh dokter spesialis anak dan spesialis obstetri dan ginekologi. Tidak hanya itu, di Kabupaten Malang juga ada kelas ibu hamil. Di dalam kelas tersebut, ibu hamil diberikan pembelajaran tentang kebutuhan gizi seimbang. Sejak awal kehamilan pun, ibu hamil sudah diberikan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Di dalam buku tersebut, terdapat panduan lengkap untuk menjaga kehamilan. Supaya bayi bisa terlahir dengan sehat. Terakhir, melalui pelayanan antenatal care (ANC) terpadu. Yakni perawatan kesehatan selama kehamilan oleh tenaga kesehatan (nakes) profesional. (yun/by)
Editor : A. Nugroho