MALANG KOTA – Setelah mengidentifikasi 2.887 anak berisiko stunting (pertumbuhan terhambat), pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menekan. Di antaranya melalui gerakan urban farming dan budidaya ikan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan Hariadi mengatakan, upaya penanganan stunting yang dilakukan pihaknya mengarah pada usaha ketahanan pangan dalam keluarga, kelompok, tingkat RT, maupun RW. Bentuk ketahanan pangan berupa urban farming.
”Urban farming meliputi budidaya tanaman, budidaya ikan, dan peternakan skala perkotaan," beber Slamet kemarin (11/12).
Jika sudah waktunya panen, dia melanjutkan, ada hasil berupa daging, telur, hingga sayur mayur yang memiliki sumber gizi tinggi. Hasil panen itu bisa dinikmati oleh masyarakat setempat, termasuk anak-anak maupun ibu hamil.
Terkait jenis budidaya, Slamet menyebut, pihaknya turut memberi pengarahan. Misalnya untuk budidaya ikan bisa berupa nila dan lele. Dalam proses budidaya, dispangtan juga rutin melakukan monitoring dan evaluasi (monev). "Sejauh ini sudah ada 115 kelompok urban farming di Kota Malang," sambung pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.
Jumlah kelompok urban farming ke depan akan semakin ditambah. Dengan demikian bisa menyebar ke 57 kelurahan. Selain urban farming, dispangtan baru-baru ini membentuk Ngalam Farmer Market. Itu merupakan wadah bagi petani, peternak, dan pembudidaya ikan yang ingin menjual hasil urban farming.
Ke depan, pihaknya ingin berkolaborasi dengan hotel agar produksi urban farming bisa masuk. "Namun tantangannya selama ini produksi urban farming masih belum banyak. Lalu sebagian besar dikonsumsi sendiri," tandasnya. (mel/dan)
Editor : A. Nugroho