RADAR MALANG – Imunisasi wajib dilakukan sebagai upaya meningkatkan kekebalan tubuh anak melalui pemberian vaksin, sehingga anak tidak mudah tertular penyakit berbahaya di kemudian hari. Meski demikian, tidak sedikit orang tua yang masih merasa khawatir bahkan skeptis terhadap imunisasi.
Kekhawatiran tersebut muncul ketika anak menunjukkan reaksi tertentu setelah imunisasi, seperti nyeri, bengkak, atau demam. Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai tanda bahwa vaksin justru membuat anak sakit.
Padahal reaksi ringan setelah imunisasi merupakan hal yang normal dan wajar. Kejadian tersebut dikenal dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
KIPI dapat terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi terhadap kandungan vaksin yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, KIPI juga bisa dipicu oleh kecemasan berlebihan saat disuntik serta kondisi kesehatan tertentu, seperti kelainan atau penyakit bawaan.
Reaksi KIPI yang umumnya terjadi pada anak antara lain munculnya ruam dan gatal pada kulit, demam, bengkak di area suntikan, batuk dan bersin, sakit kepala, mual, muntah, hingga diare. Pada sebagian kecil kasus, dapat pula terjadi sesak napas. Namun, sebagian besar KIPI bersifat ringan dan sementara.
Efek samping tersebut biasanya berlangsung selama 3-4 hari dan dapat ditangani dengan perawatan sederhana di rumah. Orang tua dapat memberikan obat penurun panas sesuai dengan anjuran dokter, melakukan kompres hangat atau dingin pada area suntikan, serta memberikan ASI atau cairan yang cukup untuk menjaga kondisi tubuh anak.
Selain itu, anak yang baru saja diimunisasi disarankan untuk beristirahat dan menghindari aktivitas berat agar tubuh dapat beradaptasi dengan baik.
Meskipun imunisasi dapat disertai efek samping, manfaatnya jauh lebih besar dibandingkan risikonya. Imunisasi terbukti efektif mencegah penyakit virus yang dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian. Maka dari itu, imunisasi tetap menjadi langkah penting dalam melindungi kesehatan anak jangka panjang.
Penulis: Intan Nurlita Dewi
Editor : Aditya Novrian