Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Program Akurasi Stunting di Malang Menghabiskan Rp 21 Miliar

Indah Mei Yunita • Sabtu, 2 Mei 2026 | 12:10 WIB
LAYANAN KESEHATAN: Beberapa nakes di Puskesmas Tajinan menunjukkan antropometri kit yang digunakan untuk mengidentifikasi stunting beberapa waktu lalu.
LAYANAN KESEHATAN: Beberapa nakes di Puskesmas Tajinan menunjukkan antropometri kit yang digunakan untuk mengidentifikasi stunting beberapa waktu lalu.

KEPANJEN, RADAR MALANG – Demi mendapatkan hasil akurat mengenai jumlah anak teridentifikasi stunting (pertumbuhan terhambat), Pemkab Malang rela menggelontor dana besar. Pada 2023 lalu, pemerintah menghabiskan Rp 21 miliar untuk pengadaan antropometri kit. Alat ukur tersebar langsung disebar ke 39 puskesmas di Kabupaten Malang.

Fungsi alat tersebut untuk memastikan hasil akurat, sehingga penanggulangannya tepat sasaran. Selain itu, juga demi standardisasi pengukuran di semua puskesmas.

Grafis standardisasi alat ukur stunting
Grafis standardisasi alat ukur stunting

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo menyampaikan, semua puskesmas sudah memiliki antropometri kit. Alat tersebut juga disebar ke beberapa posyandu demi keakuratan hasil pengukuran. “Alat untuk mengukur tinggi badan, berat badan, dan lain-lainnya sekarang ini sudah sama di 39 puskesmas. Jadi, tidak menggunakan timbangan yang berbeda. Kadang, timbangan yang berbeda, hasilnya bisa berbeda juga,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Standar antropometri anak digunakan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan (nakes), pengelola program, dan para pemangku kepentingan untuk penilaian status gizi anak dan tren pertumbuhan anak. Hal tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.

Salah satu alat antropometri yakni length board. Alat tersebut digunakan untuk mengukur panjang bayi yang berusia di bawah dua tahun. Alat itu khusus untuk bayi yang belum bisa berdiri. Contohnya di Puskesmas Tajinan.

Baca Juga: Daun Pepaya Bantu Naikkan Trombosit, Ini Segudang Manfaat Kesehatannya!

Wiyanto menjelaskan, beberapa tahun lalu, pengukuran balita ketika bulan timbang hanya menggunakan alat sederhana. "Alatnya berupa beban gantung yang hasil pengukuran kadang tidak akurat. Sehingga perlu adanya standardisasi," kata dia.

Seperti diberitakan, pertengahan 2023 lalu, Pemkab Malang telah mengalokasikan sekitar Rp 21 miliar untuk pengadaan 1.862 unit antropometri kit. Anggaran tersebut diperoleh dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023.

Secara umum, antropometri kit digunakan untuk mengukur indikasi kurang gizi. Yakni underweight (berat badan kurang dan sangat kurang) yang ditentukan berdasarkan berat badan menurut usia (BB/U), wasting (gizi kurang dan gizi buruk) yang ditentukan berdasarkan indikator berat badan dan tinggi badan (BB/TB), serta stunting (pendek dan sangat pendek) yang ditentukan berdasarkan (TB/U).

Baca Juga: Lezat dan Bernutrisi! Ini Manfaat Susu Kambing bagi Kesehatan

Sebagai informasi, indikator stunting yakni tinggi badan menurut usia dan kemampuan kognitif. Jika ada balita yang memiliki tinggi badan di bawah tinggi rata-rata balita seusianya yang dibarengi dengan penurunan kognitif, maka bisa dinyatakan stunting. Namun, karena pengukuran kognitif memerlukan pihak yang lebih ahli, pengategorian stunting hanya berdasarkan tinggi badan menurut usia saja.(yun/dan).

Editor : A. Nugroho
#permenkes #Stunting #dinkes #Nakes