RADAR MALANG – Demensia merupakan sebuah istilah untuk beberapa penyakit yang berdampak pada kemampuan berpikir sesorang. Seiring bertambahnya waktu, penyakit ini memburuk, terutama pada orang yang lanjut usia, tetapi tidak semua orang akan mengidap demensia.
Melansir dari laman resmi World Health Organization (WHO), setiap tahunnya, telah terjadi 10 juta kasus baru. Pada tahun 2021, 57 juta orang di dunia menderita demensia dan lebih dari 60% di antaranya bermukim di negara-negara yang berpenghasilan rendah serta menengah.
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini Virus Penyebab Gondongan dan Cara Pencegahannya
Demensia adalah sindrom yang disebabkan oleh sejumlah penyakit dan seiring bertambahnya waktu dapat menghancurkan sel-sel saraf hingga merusak otak. Umumnya, demensia menyebabkan seseorang mengalami penurunan fungsi kognitif yang disertai dengan perubahan suasana hati, pengendalian emosi, perilaku, atau motivasi.
Menurut laman resmi Alodokter, terdapat dua jenis demensia yang kerap terjadi, yakni penyakit alzheimer dan demensia vaskular. Alzheimer terjadi karena penumpukan protein abnormal dalam otak yang mengganggu fungsi sel saraf. Sedangkan, demensia vaskular merupakan jenis demensia akibat gangguan pada pembuluh darah dalam otak.
Baca Juga: Penyakit Difteri Menyerang Segala Usia, Kenali Penyebab dan Gejalanya
Demensia juga disebabkan oleh kelainan sistem kekebalan tubuh, gangguan metabolisme, kekurangan vitamin B1, terjadi perdarahan di bawah selaput otak, efek samping obat-obatan tertentu, seperti obat penenang, hingga karena tumor otak.
Selain itu, faktor yang dapat meningkatkan seseorang terkena demensia, di antaranya berusia (65 tahun ke atas), hipertensi, diabetes, obesitas, merokok, terlalu banyak minum alkohol, kurang aktif dalam aktivitas fisik, tidak bersosialisasi, hingga depresi.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele! Sengatan Tawon Ndas Picu Reaksi Alergi hingga Mengancam Nyawa
Adapun tanda atau gejala awal penderita demensia, meliputi:
- Melupakan sesuatu atau kejadian yang baru saja dialami.
- Kehilangan atau salah menaruh barang.
- Tersesat saat berjalan kaki atau mengemudi.
- Merasa bingung di suatu tempat, bahkan di lokasi yang dikenal.
- Kesulitan dalam memecahkan masalah atau membuat keputusan.
- Kesulitan mengikuti percakapan atau kesulitan menemukan kata-kata atau kalimat.
- Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan.
Di sisi lain, penderita demensia juga mengalami perubahan suasana hati dan perilaku yang meliputi perasaan cemas, sedih, marah karena kehilangan ingatan, kepribadian yang berubah, mengundurkan diri dari suatu pekerjaan, serta kurang tertarik pada emosi orang lain.
Baca Juga: Seputar Penyakit Trakhoma: Penyebab Utama Kebutaan Menular di Dunia, Sering Terjadi pada Anak-Anak
Meski belum ada cara pasti untuk mencegah demensia, penerapan gaya hidup sehat dan menjaga fungsi otak dapat membantu menurunkan risiko penyakit tersebut, berikut kebiasaan yang dapat Anda lakukan.
- Tidak begadang.
- Berhenti merokok.
- Rutin berolahraga.
- Menerapkan pola makan yang sehat.
- Menghindari minuman beralkohol.
- Melatih otak dengan cara bermain catur atau rajin membaca.
- Memperbanyak interaksi dengan orang lain.
- Menjaga kadar gula darah, tekanan darah, dan kolestrol.
- Mengelola suasana hati atau pikiran dengan baik agar terhindar dari stres.
Baca Juga: Mengenal Fistula Ani, Gangguan pada Area Anus yang Tidak Boleh Diabaikan
Editor : Aditya Novrian