MALANG, RADAR MALANG - Istilah playing victim belakangan makin sering dibahas anak muda, terutama generasi Z, saat menggambarkan dinamika dalam hubungan asmara.
Playing victim merupakan sikap atau kondisi psikologis ketika seseorang yang sebenarnya melakukan kesalahan justru menempatkan dirinya sebagai korban, bukan sebagai pelaku. Pola ini kerap muncul sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat, baik oleh pasangan laki-laki maupun perempuan.
Menurut penjelasan dokter sekaligus edukator kesehatan, memiliki pasangan yang gemar bersikap playing victim tidak hanya memicu konflik, tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan mental orang di sekitarnya. Pihak yang terus-menerus disalahkan bahkan bisa mulai meragukan perasaannya sendiri dan merasa bersalah saat ingin menyampaikan kekecewaan.
Baca Juga: Fenomena Doomscrolling Makin Marak, Kebiasaan Ini Diam-Diam Berdampak pada Kesehatan Mental
Dilansir dari Kemenkes, playing victim sebenarnya bukan termasuk gangguan jiwa. Namun, perilaku ini bisa menimbulkan dampak psikologis dan sosial jika terus dibiarkan dan bisa dipicu oleh pengalaman masa lalu, pola asuh yang kurang tepat, trauma emosional, atau minimnya kemampuan mengelola masalah.
Dampak yang ditimbulkan pun tidak main-main. Perilaku ini bisa membuat hubungan menjadi tidak seimbang, memperpanjang konflik karena fokusnya mencari simpati, bukan menyelesaikan masalah, menghambat perkembangan diri karena tidak mau menerima tanggung jawab, hingga membuat orang lain menjauh karena lelah menghadapi manipulasi emosional.
Jika dibiarkan berkepanjangan, kondisi ini berisiko memicu frustrasi dan keputusasaan hingga stres kronis dan depresi.
Cara Menghadapi Perilaku Playing Victim
Langkah pertama adalah mengenali polanya agar tidak mudah terjebak dalam narasi yang dibangun pasangan. Setelah itu, penting untuk menetapkan batasan yang jelas dan fokus pada fakta saat membahas masalah, bukan ikut larut dalam drama yang diciptakan.
Selain itu, gunakan bahasa netral saat berdiskusi agar tidak memicu sikap defensif, misalnya menghindari kalimat yang menyudutkan seperti "kamu selalu" atau "kamu tidak pernah".
Jika perilaku ini sudah mengganggu kualitas hidup, merusak hubungan, atau menyebabkan penderitaan emosional yang signifikan, sangat dianjurkan untuk mencari bantuan dari psikolog atau psikiater. Konseling pasangan juga bisa menjadi jalan tengah sebelum memutuskan langkah yang lebih jauh.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental diri sendiri jauh lebih penting daripada terus bertahan dalam pola hubungan yang menguras emosi.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : dikelola dari beberapa sumber