"Ramainya pengunjung biasanya memang setelah maghrib. Karena itu banyak pengunjung yang kecele," terang Ketua Shinning Satu PKL Alun-alun Batu, Puspita Herdysari. Dari hari pertama PPKM, seluruh lapak yang ada memang telah mematuhi anjuran yang diberikan pemerintah. Sejak pukul 19.00 pedagang sudah menutup lapaknya, termasuk wahana wisata di alun-alun. Meskipun masih ada saja pengunjung yang bersantai di luar Alun-alun, namun jumlahnya sedikit.
Diakui Puspita, para PKL sangat kesusahan dengan ada pemberlakuan ini. "Kami mencoba untuk buka seperti biasa dan tutup di jam 19.00 namun hasil yang didapat sangat minim. Satu hari pendapatan kami hanya berkisar Rp 15 ribu hingga 30 ribu saja," paparnya. Bahkan menurutnya, hampir 80 persen PKL tidak mendapatkan penghasilan karena harus mematuhi pemberlakukan jam malam.
Imbas dari perputaran roda ekonomi yang tidak maksimal membuat banyak PKL memilih untuk libur. "Sebanyak 60 persen dari keseluruhan PKL yang ada memilih untuk libur. Uang tidak bisa berputar dengan baik," tambahnya. Sebelum adanya PPKM pun jumlah wisatawan yang hadir tidak bisa dikatakan normal. Hujan yang datang hampir di setiap hari membuat para pelancong ogah datang. Dia mengaku banyak sekali rekan PKL alun-alun mengeluh akan kondisi ini. "Saya ya cuma bisa bilang bertahan seadanya saja," imbuhnya.
Walaupun sulit, dia tetap menerima keputusan pemerintah untuk melaksanakan PPKM. Ia berpendapat selagi keputusan yang dikeluarkan adil, maka mereka akan selalu mematuhinya. "Kami cuma bisa berharap keputusan ini ampuh untuk memutus mata rantai. Ya pada kondisi ini mau gimana lagi," tutupnya.
Pewarta : Wildan Agta Affirdausy Editor : Ahmad Yani