Salah satu pedagang sayur Nurlela mengatakan, kondisi kios pasar di area dalam kini banyak yang memilih menutup kiosnya. “Saya aja pindah ke area depan karena sepi. Ibaratnya, berjualan di gang sempit ya mana ada yang beli,” ujarnya.
Nurlela menyadari bahwa pasar relokasi ini bersifat sementara. Akan tetapi, faktanya banyak pedagang yang mulai gulung tikar (rugi) karena tidak bisa balik modal. “Sekarang saja, buah sayur beberapa hari tidak laku. Padahal, penghasilan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata dia.
Hal yang sama juga diungkapkan Sumirah. Dia menceritakan, sebagian pedagang memilih untuk menutup kiosnya karena rugi banyak. “Ada teman saya yang awalnya jualan sayur dan buah di pasar. Tapi, sekarang berjualan cilok di rumahnya,” jelas dia. Bahkan kata dia, ada yang mobilnya dijual karena tidak sanggup membayar utang karena sepinya pembeli.
Selain itu, wartawan koran ini menemukan salah satu kios memilih tetap buka meskipun sekelilingnya tutup. Dia bernama Yogi, pedagang sembako di Pasar Relokasi Batu. “Saya tetap buka meskipun sekeliling tutup. Karena, pelanggan sekarang mulai kembali pulih 50 persen lebih,” tandasnya. (ifa/lid) Editor : Mardi Sampurno