KOTA BATU – Pertanian apel di Kota Batu dilanda musibah.
Para petani banyak yang gagal panen lantaran apel berguguran.
Kualitasnya buruk, sehingga tidak layak jual.
Dalam satu ladang, kerusakannya mencapai 80 persen.
Salah seorang petani apel, Arochman Mustofa mengatakan, rusaknya apel di kebunnya karena cuaca tak menentu.
Petani tidak bisa memperkirakan kapan datang hujan dan kapan panas.
”Kondisinya makin parah karena ada jamur serta spora. Mudah menginfeksi tanaman apel,” keluh Mustofa kemarin Dia mengaku memiliki ladang satu hektare.
Produksinya mencapai 13 ton apel, namun hanya 3 ton saja yang layak jual.
”Yang masih bisa diselamatkan akan saya buat keripik buah. Sementara yang kerusakannya lebih dari 50 persen buat pakan ternak,” ujar petani asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu itu.
Saat kondisi normal, kerusakan hanya berkisar 10-20 persen.
Jika terus seperti ini, Mustofa khawatir makin banyak petani yang akan berpindah dari apel ke komoditas lain.
Padahal, apel merupakan ikon Kota Batu.
Sehingga kelestariannya harus dijaga.
Sementara itu, petani lain di Desa Tulungrejo, Djumar mengatakan, panen kali ini sangat parah.
Lahan satu hektare miliknya menghasilkan 15 ton apel, hanya bisa terjual hanya 4 ton saja.
Sisanya 9 ton busuk di ladang.
”Akhir-akhir ini hujannya memang lebat. Jadi, ketika selesai menyemprotkan pestisida, hujan turun dan pestisida hilang,” ungkap petani 54 tahun itu.
Sedangkan terkait lalat buah, dia menilai perkembangan bertambah pesat.
Lantaran gagal panen, apel miliknya yang rusak akan dibuat pakan ternak.
”Itu pun tak semuanya layak diberikan ke ternak. Sisanya biar membusuk di ladang,” kata dia.
Dia mengatakan, kualitas apel memang sudah merosot sejak lima tahun terakhir.
Namun puncak kerusakan terjadi awal tahun ini.
Banyak petani apel yang rugi lantaran modal untuk penanaman tidak kembali.
”Mobil dan motor sudah banyak yang saya jual, namun tak menemui hasil yang bagus,” pungkasnya (sif/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana