Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Harga Kedelai di Pasar Tradisional Malah Lebih Dulu Naik

Ahmad Yani • Minggu, 3 Januari 2021 | 00:13 WIB
Salah seorang pedagang pasar Oro-Oro Dowo Kota Malang menunjukkan kedelai yang dijual di bedaknya. (Imam N/Radar Malang)
Salah seorang pedagang pasar Oro-Oro Dowo Kota Malang menunjukkan kedelai yang dijual di bedaknya. (Imam N/Radar Malang)
MALANG KOTA— Kenaikan harga kedelai tak hanya dirasakan warga yang membuat tempe di kawasan Sanan, Kelurahan Purwantoro, Blimbing saja. Di sejumlah pasar tradisional, harga kedelai malah lebih tinggi.

Untuk memastikan kenaikan harga kedelai, Jawa Pos Radar Malang mencoba mengecek di pasar tradisional Oro-Oro Dowo Kota Malang. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan selisih harga kenaikan kedelai di pusat produsen tempe Sanan dan pasar.

Giyanti, salah satu penjual kedelai membernarkan kenaikan harga kedelai tersebut. ”Sebelum natal kemarin mulai naiknya,” kata Giyanti di sela-sela berjualan Sabtu (2/1). Menurutnya, harga jual kedelai sebelumnya sekitar Rp 9 ribu per kilogramnya. Sedangkan, saat ini sudah naik menjadi sekitar Rp 11 ribu per kilogramnya. ”Ada kenaikan sekitar Rp 2 ribu per kilonya,” terang ibu dua anak ini.

Hanya saja, masih kata dia, meski harganya naik, tapi tidak mempengaruhi jumlah permintaan kedelai. Karena permintaannya relatif stabil, yaitu sekitar 5 kilogram tiap harinya. ”Karena yang beli cuma orang itu-itu saja. Jadi nggak terpengaruh kenaikan harga,” ungkap dia.

Lebih lanjut, pihaknya tak tahu secara pasti penyebab kenaikan harga kedelai tersebut. Karena dia mengetahui kenaikan harga saat kulak-an. ”Waktu lihat catatan (kulak-an), tahu-tahu harganya naik,” jelas perempuan yang sudah 31 tahun berjualan di pasar Oro-Oro Dowo ini.

Pewarta: Imam N
Editor : Ahmad Yani
#harga kedelai #RMO #Kota Malang #Im #pasar tradisional #komoditas