"Bukan cuma sampah tapi juga pasir. Pasir ini akan membentuk sedimen yang menumpuk yang juga bisa penyebab tersumbatnya drainase. Kalau saya perhatikan banyak masyarakat dan petugas kebersihan yang masih mengarahkan pasir ke selokan atau drainase," terangnya.
- Baca juga : Hujan Deras, Kota Malang Diterjang Banjir Lagi
Bisri menambahkan, mayoritas drainase yang ada di Kota Malang saat ini merupakan peninggalan dari zaman Belanda, namun desain saat ini tidak menyatu dengan master plan drainase tersebut. Inilah yang membuat tampungan dari drainase tersebut jadi kurang maksimal.
Soal solusi banjir Prof Bisri menyebutkan GASS (Gerakan Angkut Sampah dan Sedimen) yang digalakkan BPBD saat ini merupakan program yang cukup efektif sebagai salah satu upaya penanggulangan banjir. "Program GASS sampai sejauh ini merupakan program paling efektif saya rasa. Dulu ada 8 titik yang jadi sorotan kami untuk segera ditangani melalui program GASS ini. Sekarang tinggal 3 sampai 4 saja titik banjir yang cukup besar. Sisanya ya karena sumbatan drainase kecil itu," jelasnya.
Di samping itu, penanganan masalah drainase di Kota Malang harus tepat dan on the spot. Contohnya di kelurahan Bareng, penanganan harus ketika terjadi banjir. Sebagai tindakan tambahan, perlu dilakukan pemotongan jalur air dari atas.
"Dulu Bareng punya lambau (landbow/hutan kota) sebagai busem-nya (area resapan air) sekarang sudah tidak ada, apalagi daratannya sudah dangkal di Bareng itu. Dengan proyek jacking ini ke depannya bisa jadi solusi mengatasi banjir," pungkasnya.
Pewarta : Chosa Setya Ayu Widodo Editor : Shuvia Rahma