Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

9 Kasus Gangguan Ginjal Akut pada Anak di Malang

Mardi Sampurno • Sabtu, 22 Oktober 2022 | 04:12 WIB
IMBAU WASPADA: Tim RSSA Malang memaparkan penanganan pasien Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal rujukan dari beberapa daerah kemarin siang. (SUHARTO/RADAR MALANG)
IMBAU WASPADA: Tim RSSA Malang memaparkan penanganan pasien Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal rujukan dari beberapa daerah kemarin siang. (SUHARTO/RADAR MALANG)
MALANG KOTA – Isu gangguan ginjal akut pada anak sedang menjadi perhatian pemerintah dan instansi kesehatan. Apalagi Kementerian Kesehatan telah melaporkan bahwa sampai 18 Oktober lalu jumlah penderita Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GgGAPA) mencapai 206 orang. Khusus di Kota Malang terdapat sembilan kasus (berdasar data Ikatan Dokter Anak Indonesia Jawa Timur).

Untuk menangani GgGAPA, Kemenkes telah menunjuk 14 rumah sakit rujukan. Salah satunya RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA). Pihak RSSA juga mengakui ada pasien anak yang dirawat karena GgGAPA. Namun tim dokter dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUB/RSSA enggan menyebutkan jumlah persisnya.

Menurut dr. Susanto Nugroho Sp.A (K), hingga kemarin masih ada 1 pasien yang menjalani perawatan di Intensive Unit Care (ICU). Pihaknya mencurigai ada indikasi yang mengarah kepada GgGAPA. Hal tersebut didasarkan atas kriteria Kemenkes yang menjadi acuan nasional.

“Memang ada beberapa kasus yang mengarah ke situ. Tapi datanya akan dirilis Kemenkes. Keseluruhan kasus yang datang ke kami adalah rujukan dari Malang, Blitar, Pasuruan, dan Sidoarjo,” tutur dokter spesialis hematologi onkologi itu.

Kasus GgGAPA, mulai terdeteksi dalam beberapa bulan terakhir. Tren kenaikannya terjadi sejak Agustus hingga Oktober. Pasien yang masuk didominasi anak berusia antara 2-5 tahun. Mereka dirujuk ke rumah sakit setelah mengalami sejumlah gejala. Di antaranya demam, diare, batuk, pilek, muntah, hingga penurunan produksi urin, atau bahkan urine tidak keluar sama sekali (anuria). “Ada juga yang dengan gejala ISPA sebanyak 67 persen,” kata Dr dr Krisni Subandiyah SpAK.

Krisni melanjutkan, hampir 90 persen pasien yang ditangani harus menjalani cuci darah (hemodialisis). Namun pasien yang sudah sembuh juga cukup banyak, yakni sebanyak 56 persen. Jika anak yang terdeteksi mengalami gejala GgAPA cepat dirujuk, maka kesembuhannya akan lebih cepat. Dia memperkirakan kondisi pasien akan membaik dalam 1-2 bulan.

Untuk itu, Krisni mengimbau para orang tua tidak panik. Yang lebih penting adalah mewaspadai gejala-gejala yang mengarah ke GgGAPA. Misalnya, anuria yang terjadi sekitar 4-7 hari setelah munculnya gejala.

Ditanya terkait penyebab pasti GgGAPA, pihak RSSA mengaku masih melakukan penyelidikan. Namun mereka meminta agar para orang tua tetap memperhatikan gaya hidup anak. Seperti menghindari konsumsi makanan yang mengandung perasa buatan.

Ketua IDAI Jawa Timur Perwakilan V Malang Raya Dr dr Harjoedi Adji Tjahjono SpAK menambahkan, saat ini pihaknya juga telah mengeluarkan imbauan. Baik untuk tenaga kesehatan dan masyarakat.

Kepada tenaga kesehatan, Harjoedi meminta agar tetap melakukan pemantauan dan pelaporan terkait kasus GgGAPA. Sementara untuk masyarakat, dia mengimbau agar menghindari obat-obatan dalam bentuk cair atau sirup sambil menunggu kepastian dari BPOM dan Kemenkes tentang obat yang diduga mengandung zat-zat berbahaya. Obat sirup bisa diganti obat lain seperti puyer.

“Selain itu, waspadai gejala-gejala gagal ginjal akut, seperti berkurangnya atau tidak adanya buang air kecil secara mendadak. Terutama balita. Seperti 12 jam tidak kencing atau dalam 24 jam berkurang kencingnya,” pungkas Harjoedi. (mel/fat) Editor : Mardi Sampurno
#Ikadi #rssa malang #gagal ginjal anak