Satu di antara tiga anak itu berasal dari Kota Malang. Usianya lima tahun dan berasal dari Kecamatan Lowokwaru.
Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan Medik dan Keperawatan RSSA dr Syaifullah Asmiragani menjelaskan, penyebab kematian anak tersebut masih perlu diidentifikasi. “Kami pastikan dulu apakah semua yang meninggal murni akibat GgGAPA. Kalau indikasinya memang mengarah ke sana,” bebernya.
Syaifullah menambahkan, hingga kemarin jumlah pasien yang diduga mengalami GgGAPA sudah banyak yang sembuh. Saat ini hanya tersisa satu anak yang dirawat. Kondisinya pun sudah menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada kesembuhan.
Sementara itu, dua pasien anak yang juga meninggal dunia berasal dari luar kota dan dirujuk ke RSSA. Satu anak dari Sidoarjo dan satu lagi dari Blitar. Pihaknya kini sedang menunggu hasil pemeriksaan, apakah ketiga anak yang meninggal itu disebabkan GgAPA. “Memang belum ada kecurigaan yang sampai parah. Hanya fungsi ginjal saja yang bermasalah,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang Husnul Muarif juga membenarkan kabar adanya pasien anak dari Kota Malang yang meninggal dan diduga akibat GgGAPA. Sebelumnya juga ada dua pasien anak dari Kota Malang yang dirawat, namun sudah dinyatakan sudah.
Merespons adanya pasien anak yang meninggal, Husnul mengaku telah meningkatkan kewaspadaan di seluruh instansi kesehatan. Sebanyak 16 puskesmas di Kota Malang diminta siaga dan lapor jika ada pasien yang memeriksakan diri dengan gejala mirip GgGAPA.
Husnul juga telah meminta apotek dan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) menghentikan sementara peredaran obat sirup. Selain mengikuti anjuran pemerintah pusat, pihaknya tak ingin obat sirup yang diklaim penyebab penyakit ginjal akut menyerang anak-anak.
“Disarankan sebaiknya mengganti obat sirup dengan tablet atau puyer,” tegasnya. (adn/fat) Editor : Mardi Sampurno