Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sejak 1920, Sebutan Boldy Berasal dari Nama Pengusaha Armenia

Mardi Sampurno • Minggu, 18 Desember 2022 | 17:47 WIB
berseJarah: seorang warga melintas di depan N.V. apotek boldy, Jalan Gatot subroto, kemarin (17/12)
berseJarah: seorang warga melintas di depan N.V. apotek boldy, Jalan Gatot subroto, kemarin (17/12)
Kawasan yang kini menjadi Jalan Mangun Sarkoro dulu memiliki sebutan lain: Gang Boldy. Penyebutan itu diambil dari nama pengusaha asal Armenia yang sukses menjalankan bisnis persewaan kuda. Bagaimana kisahnya?

JEJAK kampung Boldy masih tersisa hingga sekarang. Salah satunya, kuliner legendaris Bakpao Boldy. Makanan khas asal Tiongkok yang dijual sejak era 1950­an tersebut masih diminati masyarakat sekitar. Sekitar dua ratus meter dari Bakpao Boldy, ada tempat penjualan obat yang penamaannya juga menggunakan sebutan Boldy.

Tempat tersebut adalah Naamloze Vennotschap (NV) Apotek Boldy. Lantas, mengapa Jalan Mangun Sarkoro dulu disebut Gang Boldy? Tak banyak literatur berbahasa Indonesia yang mengulas asalusul kampung Boldy. Disebut kampung karena Gang Boldy membawahi dua RW, yakni RW 2 dan RW 3 Kelurahan Jodipan. Sejumlah literatur berbahasa Belanda mengungkap bahwa Boldy merupakan nama pengusaha asal Armenia yang hijrah ke Hindia Belanda (kini Indonesia). Dia bernama Aratoon Mar car Jacob (A.M.J) Boldy.

Mengacu informasi di situs Be landa, Imexbo, A.M.J Boldy adalah keturunan Armenia. Dia lahir tahun 1850 di Nor Jugha, sebuah kawasan di Armenia. Ayah nya, Marcar Jacob Boldy men  jalankan bisnis jasa perse waan kuda dan berdagang. Kelak, setelah A.M.J Boldy berkeluarga, bisnis tersebut diwariskan kepadanya.

Seperti kebanyakan orang Armenia, A.M.J Boldy dan istrinya, Sirvard Soekias, mengembara un tuk mencari nafkah. Sekitar 1900­an, keluarga mereka bermigrasi ke Indonesia, setelah sebelumnya ke Malaysia. Keluarga ini kemudian menetap di Malang. Keberadaan keluarga Boldy di Malang juga diketahui dari buku “Malang Beeld Van Een Stad”, karya A. Van Schaik.

Dalam buku tersebut tertulis bahwa awal abad 20, profesi orang Malang beragam. Di kalangan pedagang Eropa mi salnya, persewaan kuda dan ke reta dimiliki orang dengan mar ga Jensen, Boldy, hingga Wichand.

Sementara itu, salah satu pencetus komunitas Malang Old Pho to Arief Disanda Kantina Se tia wan Putra menjelaskan, pada era kolonial, di Kota Malang banyak pengusaha atau konglomerat. Mulai kalangan pribumi, Tionghoa, hingga Eropa. Meski demikian, katanya, yang lebih

terkenal dan menjadi nama kawasan justru Boldy. Arief menduga, penggunaan na ma Boldy karena bisnis A.M.J Boldy tergolong sukses. Lantaran kala itu bisnis jasa kuda serta perse waan seperti milik A.M.J Boldy belum banyak. “Sepertinya, pada waktu itu Boldy bisa mem berikan pelayanan yang baik. Makanya, dia yang paling kaya dan besar perusahaannya,” kata Arief.

Pernyataan Arief ini sesuai dengan isi majalah bulanan Carmelrozen terbitan Januari 1924. Di majalah tersebut dipa parkan bahwa seorang pengguna jasa karavan kuda Boldy merasa puas terhadap pelayanan yang mereka terima. Ini karena kuda­kuda yang membawa karavan berjalan tanpa menimbulkan debu. Selain itu, pengguna jasa bisa berangkat tanpa terikat waktu.

Sebelum menjadi Gang Boldy, Arief mengatakan, kampung ini ter masuk kawasan Tumenggu ngan. Hal tersebut didasarkan pada peta lawas tahun 1820­an yang dimiliki komunitasnya. “Selanjutnya, tahun 1920­an ka wa san Tumenggungan mulai disebut sebagai Gang Boldy. Dan 1930 berubah menjadi Boldy Straat,” terang pria yang mencari tahu tentang Boldy sejak 2020 itu. Penyebutan “Boldy Straat” tercantum dalam majalah Moesson terbitan 15 Juli 1981. Dalam salah satu artikel, penulis yang pernah menghabiskan masa kecilnya di Gang Boldy itu memaparkan, Boldy straat juga kerap disebut dengan ‘gang.’

Gang ini terletak di selatan kota. Sang penulis menggambarkan Boldy sebagai kawasan dengan ruas jalan yang lebar. Di sana ter dapat rumah dan pekarangan besar. Sementara penghuninya ter diri atas orang Tiongkok dan India. Namun, lagi­lagi tidak ada yang tahu pasti perkara penyebutan kawasan itu menjadi ‘Boldy.’ Hingga kemudian ada seseorang yang berkenalan dengan Victor Boldy di Australia. Victor merupakan putra sulung pasangan A.M.J Boldy dan Sirvard.

Dia lahir pada 7 Januari 1903. Di samping pengusaha, A.M.J Boldy juga dikenal sebagai presiden di komunitas keturunan Ar menia di Indonesia. Keterangan tersebut tercantum dalam koran De Indische Courant ter bitan 8 Mei 1930. Seiring berjalannya waktu, rumah­rumah besar, pekarangan yang dipenuhi rumah­rumah kecil, dan warung menghilang. Yang tersisa sekarang adalah NV Apotek Boldy di Jalan Jenderal Gatot Subroto.

“Terkait di mana ru mah keluarga Boldy, sampai se karang saya juga belum menemukan lokasi persisnya. Yang jelas dia tinggal hingga berbisnis kuda dan persewaan di sana,” terang Arief. Arief belum menemukan sumber mengenai alasan Boldy tinggal di kawasan itu. Padahal pada zaman dulu Gang Boldy terkenal sebagai kawasan yang jarang dipantau polisi di Hindia Belanda. Ini karena di kawasan tersebut terjadi banyak tindak kejahatan. Selain Arief, salah satu warga yang sudah cukup lama tinggal di Jalan Mangun Sarkoro juga pernah mendengar asal­usul Boldy.

Dia adalah Ketua RT 08 Nanik Listyowati. “Saya dengar dari orang tua. Dulu Jalan Mangun Sarkoro atau Gang Boldy itu banyak orang Belandanya. Tapi sekarang sudah banyak berubah kondisinya,” terang wanita kelahiran 1959 itu. Dalam sejarahnya, nama­nama jalan di Indonesia, termasuk Malang mengalami beberapa kali perubahan. Dikutip dari buku Indonesia dalam Api dan Bara, ada tiga fase perubahan nama jalan. Seperti halnya Jalan Mangun Sarkoro. Pada zaman Belanda, jalan ini disebut Gang Boldy dan masa Orde Lama menjadi Jalan Boldy. Lalu, di zaman Orde Baru untuk pertama kalinya namanama jalan diubah menjadi Jalan Mangun Sarkoro.

Warga lainnya, Muhammad

Amin menerangkan, di Jalan Boldy dulunya juga terdapat Gang Sawo. Sebab, di gang tersebut terdapat banyak pohon sawo. Gang tersebut kemudian berubah nama menjadi Jalan Mangun Sarkoro 5.

Dulu, Hampir Tiap Minggu Ada Kasus Bunuh Diri RUAS Jalan Mangun Sarkoro menukik ke atas, apabila pengguna jalan melintas datang dari arah Jalan Ir H Juanda. Karena itu, dulu jalan ini terbagi menjadi Jalan Boldy atas dan bawah. Hal tersebut dikatakan oleh Sutris Wahono, warga RT 8 RW 4. “Saya sudah tinggal di sini (Jalan Boldy Atas) sejak tahun 1961 lalu.

Dulunya tinggal di Jalan Boldy Atas lalu pindah ke Boldy Bawah,” terang pria yang seharihari bekerja di pasar itu. Ditanya terkait ikon atau tradisi yang khas di kalangan masyarakat, Sutris menyebutkan seperti di kawasan lain pada umumnya. Misalnya tahlilan, Maulid Nabi, hingga peringatan Hari Kemerdekaan. Hal tersebut dibenarkan Dewi Maslichah. Dewi merupakan pemilik Warung Bu Rudy yang tinggal di RW 1 sejak tahun 1971. Meski tidak memiliki tradisi khas, dia mengungkapkan bahwa kondisi Jalan Mangun Sarkoro sudah jauh berubah. “Karena letaknya nyelempit, sering disebut embong ke kiwo. Ibaratnya, di sini itu kurang mendapat perhatian, sehingga sering jadi sarang orang berbuat jahat,” bebernya.

Perbuatan jahat yang dilakukan oknum­oknum tidak bertanggung jawab juga beragam. Mulai dari tem pat wanita penghibur, pemabuk, tawuran, hingga menjadi lokasi bunuh diri mengingat letaknya yang berdekatan dengan rel kereta api. Namun, kondisi ini berkurang sejak 1988. “Waktu zamannya Wali Kota Soesamto, tindak kejahatan mulai berkurang. Padahal sebelum itu, hampir setiap minggu ada satu orang yang bunuh diri di rel kereta,” tandas Dewi.(*/dan) Editor : Mardi Sampurno
#kuliner legendaris Bakpao Boldy. #kampung Boldy #masih tersisa