Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Lima Kerajaan dan Peran Eyang Sentono di Kutobedah

Mardi Sampurno • Senin, 26 Desember 2022 | 03:12 WIB
PUNYA SEJARAH PANJANG: Dokumentasi foto udara pada tahun 1947 dan 2022 memperlihatkan perkembangan permukiman warga di Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang. Kampung Kutobedah terletak di bawah cekungan aliran sungai.
PUNYA SEJARAH PANJANG: Dokumentasi foto udara pada tahun 1947 dan 2022 memperlihatkan perkembangan permukiman warga di Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang. Kampung Kutobedah terletak di bawah cekungan aliran sungai.
Sebelum dikenal dengan sebutan Kutobedah, kampung yang terletak di Jalan Muharto, Kecamatan Kedungkandang ini dulunya bernama koetoredjo (kutorejo). Berdasarkan buku Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang, penyebutan koetoredjo tercantum dalam peta Rupabhumi, atau peta zaman Kerajaan Singhasari pada tahun 1811. Dari pendalaman Jawa Pos Radar Malang, istilah untuk wilayah itu memang mengalami perubahan beberapa kali. Pada tahun 1222, istilahnya kutaraja.

Pada tahun 1811, istilahnya berganti menjadi kutorejo. Nama Kutobedah mulai digunakan tahun 1901. Perubahan istilah itu Koetoredjo tidak lepas dari beberapa temuan arkeologis. Ya, di kawasan yang kini menjadi bagian Kelurahan Kotalama itu, dulu memang banyak ditemukan temuan arkeologis. Salah satunya temuan parit buatan. Parit yang ditemukan di Kutobedah jumlahnya ada dua. Terhubung dengan Sungai Brantas dan Sungai Bangao. Panjang parit mencapai 785 meter. Lebarnya 12 meter. Di dasarnya, terdapat batu-bata kuno seperti di peninggalan Kerajaan Singhasari. Itu menjadi salah satu indikasi bila koetoredjo pernah menjadi pusat Kerajaan Tumapel yang dipimpin Ken Arok. Kerajaan itu kemudian diubah menjadi Kerajaan Singhasari pada tahun 1254 oleh Raja Wisnuwardhana. Lokasi di sana memang strategis.

Sebab berada di pertemuan tiga sungai besar. Yakni Sungai Brantas, Sungai Bangao, dan Sungai Amprong. Selain menjadi jejak Kerajaan Singhasari, Kutobedah diperkirakan juga pernah menjadi tempat pelarian Patih Kerajaan Majapahit. Itu tercantum dalam buku 25 Decentralisatie in NederlandschIndie 1905. Pada buku itu, dijelaskan bila sekitar tahun 1400 ada Patih Majapahit yang melarikan diri ke Malang. Sang patih hijrah setelah kerajaannya ditaklukkan orang-orang Islam. Patih itu kemudian mendirikan kerajaan di tikungan Sungai Brantas, dan membangun benteng yang disebut koetobedah.

Keterkaitan antara Kutobedah dengan Kerajaan Majapahit dibuktikan dari temuan berupa sisa-sisa benteng. Informasi tersebut juga tercantum dalam buku JAVA: Geographisch, Ethnologisch, Historisch. Juga tercantum dalam buku Rapporten Van Den Oudheidkundigen Dienst In Nederlandsch-Indie. Selepas pusat pemerintahan berlatar belakang agama Hindu berakhir, Malang pernah diekspansi tiga kasultanan. Yakni Demak, Pajang, dan Mataram. Pendapat tersebut disampaikan Sejarawan M. Dwi Cahyono dalam tulisannya yang berjudul Khasanah Tinggalan Budaya Indis di Kota Malang.

Dwi menjelaskan jika basis pertahanan Kasultanan Mataram menggunakan bekas benteng dari masa awal Kerajaan Singosari di Kutobedah. Dalam tulisannya itu, Dwi menyatakan bahwa kuto bedah berarti benteng kota yang terkoyak oleh serangan musuh. Karena bentuk topografinya yang mirip supit udang, kawasan itu juga disebut supit urang.

Dijelaskan pula dalam buku Antologi Visual: Cerita Rakyat Malang Raya, jika penyebutan Kutobedah berasal dari pertarungan sengit saat Malang berada di bawah pengaruh Kasultanan Mataram. Akibat pertarungan itu, pusat ibukota Kadipaten Mataram berhasil dijebol (bedah). Pernyataan terkait asal-usul Kutobedah juga disampaikan Ismail Lutfi dan kawan-kawan dalam buku Toponim Kota Malang. Di buku itu, disebutkan bahwa kutarejo identik dengan nama Kutobedah. Ismail sendiri berpendapat bila Kutobedah merupakan nama baru. ”Kuto artinya bukan kota, tapi tembok atau dinding.

Sementara bedah adalah dinding yang terkoyak,” terang Dosen Prodi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) itu. Menurut peta Belanda yang pernah dia lihat, lokasi kutoredjo berada di timur Kebalen. Dia pun punya keyakinan bahwa di sana merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Tumapel. Sempat Jadi Jujukan Pemakaman Warga Tionghoa Selain pernah menjadi pusat kerajaan, Kutobedah juga pernah dihuni berbagai kelompok masyarakat.

Mulai dari pribumi hingga warga etnis Tionghoa. Keberadaan etnis Tionghoa di Kutobedah itu disampaikan budayawan Bambang Adrian Wenzel. Dia menjelaskan, etnis Tionghoa atau dikenal juga dengan ras China singgah ke kawasan Kutobedah dari Singosari. Mereka turun ke bawah setelah orangorang Islam masuk ke sana. ”Mereka menuju ke sana untuk memakamkan keluarganya. Kutobedah dipilih karena memenuhi persyaratan Honshui orang China,” terang Bambang. Di dalam Honshui terdapat moto yang disebut Sansui. Artinya bersandar pada gunung, menatap air sebagai sumber kehidupan. Moto itu sejalan dengan kondisi Kutobedah, yang dulu terletak di lereng Gunung Buring dengan sumber air dari Sungai Amprong serta Sungai Brantas.

”Dulu di Kutobedah banyak bong (nisan), tapi sudah dijarah orang-orang. Ada yang menggunakannya untuk bahan membuat rumah hingga dijadikan rumah,” tambah dia. Keberadaan pemakaman orangorang Tionghoa di Kota Malang juga diperkuat dengan keberadaan krematorium Yayasan Panca Budi. Krematorium itu berdiri tahun 1962 dengan nama Jajasan Krematorium Ang Hien Hoo Malang. Pada tahun 1984, krematorium itu kemudian dipindahkan ke Junrejo, Kota Batu. ”Karena letaknya di pinggiran kota, maka dibuat pemakaman untuk keturunan Tionghoa. Dulu, di sana proses kremasinya masih tradisional,” kata Wakil Kepala Kantor Yayasan Panca Budi Bonsu Bintarto.

Dia mengungkapkan, dulu keluarganya juga pernah dimakamkan di Kutobedah. Keberadaan pemakaman Tionghoa turut diperkuat bukti-bukti foto dalam buku Indonesia dalem Api dan Bara. Di buku itu disebutkan,ada proses pemakaman kembali jenazah orang Tionghoa yang dibunuh pemilik pabrik es Betek. Namun, tidak disebutkan tahun peristiwanya. Kesaksian terkait keberadaan pemakaman Tionghoa juga diperkuat dengan penuturan masyarakat setempat.

Salah satunya yakni Ketua RW 10 Nur Aini. Perempuan kelahiran 1976 yang sudah tinggal di Kutobedah sejak kecil itu mengatakan bila dulu banyak kuburan di tempatnya. Baik kuburan orang Tionghoa, orang-orang Jawa, maupun pendatang lainnya. ”Kalau sudah jam lima sore, saya tidak berani keluar. Namun, kuburan-kuburan ini mulai dibersihkan saat saya SMP. Bahkan, saya lihat sendiri saat dibuka ada kijing dan baunya tidak karu-karuan meski tubuh mayatnya masih awet,” beber Aini. Sayangnya, dalam perkembangannya, Kutobedah sempat berkembang menjadi lokasi untuk tindak asusila.

Karena itu, dulu Kutobedah sempat dijuluki dengan monas. ”Misal, ada yang tanya omahe ndek ndi? Dijawab gang lima monas, orang-orang pasti tahu,” imbuhnya. Menurut Aini, saat ini daerah yang termasuk Kutobedah adalah Jalan Muharto gang 5 dan gang 7. Di gang 5 meliputi RW 11, 9, 8, dan 6. Sementara di gang 7 meliputi RW 10 dan RW 7. Selain disebut Kutobedah, dua gang tersebut sekarang dikenal dengan sebutan gang kembar. ”Karena sering ada kejadian yang sama. Misalnya, kalau di gang 5 ada yang meninggal, di gang 7 juga ada,” kata Aini. Meski demikian, saat ditanya asal-usul nama Kutobedah, Aini mengaku tidak tahu. Demikian pula dengan sejumlah warga yang sudah tinggal di sana sejak lama.

Namun, Aini menyebutkan jika dulu ada beberapa sosok yang babat alas di sana. Yang paling terkenal yakni Eyang Sentono. Ada pula Eyang Sribuk, Eyang Wage, dan Ringin Kurung. Karena itu, masih banyak punden di sana. Dari juru kunci makam yang bernama Mbah Bawon, diketahui bahwa Eyang Sentono merupakan keturunan Madura.

Sementara istrinya merupakan warga keturunan Mataram. ”Tapi saya tidak tahu banyak soal babat alas-nya Eyang Sentono. Saya hanya tahu di kompleks makam itu ada makam eyang, istrinya, Joko Dolog, Joko Umbaran, dan Sulaiman,” kata dia. Kisah babat alas Eyang Sentono sempat disampaikan sedikit oleh Miselan. Pria yang lahir dan besar di Kutobedah sejak tahun 1942 itu menyebut bila sebelum menjadi permukiman padat seperti sekarang, Kutobedah dulunya dipenuhi dengan hutan. Menurut Miselan, asal-usul nama kuthobedah merujuk pada aktivitas Eyang Sentono yang melakukan babat alas.

Babat alas itu diibaratkan dengan membedah kawasan yang dulunya berupa hutan. Itu lah yang membuat kawasan itu disebut dengan Kutobedah. ”Setelah menjadi permukiman, ada sebagian lahan yang dibeli dinas untuk pemakaman. Itu sekitar tahun 1978,” terang pria yang tinggal di Jalan Muharto gang 5 itu. Kini, kawasan Kutobedah sudah mulai berbenah.

Meski dulu sempat identik dengan tindak asusila, para perangkat masyarakat setempat sudah berupaya mengubah wajah Kutobedah dengan merawat lingkungan. Salah satunya lewat kegiatan kampung berseri. Menurut Lurah Kotalama Bambang Heryyanto, pihaknya rutin menggelar kegiatan itu untuk menciptakan suasana hijau. ”Kami ingin mengubah image dengan melakukan penghijauan di kampung. Kegiatan penghijauan itu juga sangat penting, mengingat di sini sering longsor dan banjir,” kata dia. (*/by) Editor : Mardi Sampurno
#Jejak Lima Kerajaan #buku Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang