”Perjanjian kami dengan PJT 1 terkait pemanfaatan Sungai Bango mencapai 500 liter per detik,” kata Muhlas. Jumlah itu terbilang besar jika dibanding dengan pasokan air dari Sumber Pitu. Sebab, jika bergantung ke sumber tersebut hanya sekitar 200 liter per detik saja, bahkan bisa kurang dari itu. Di sisi lain, jaminan air ke pelanggan bisa lebih terjaga. Tinggal bagaimana jaminan distribusi melalui pipa agar tidak sering pecah. Meski mendapat pasokan air melimpah, Tugu Tirta memerlukan waktu tiga tahun demi mendapat pasokan air secara maksimal. Artinya pada tahun ini Tugu Tirta masih memaksimalkan pasokan air mencapai 200 liter per detik. Kemdian dilanjut 2024 di angka 100 liter per detik. ” Baru pada 2026 nanti kita akan kembali 200 liter per detik.
Sehingga, target 500 liter per detik akan tercapai dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun,” ujar Muhlas. Sementara itu, Direktur PJT 1 Raymond Valiant Ruritan menyebut proses penjernihan nantinya akan memanfaatkan metode filtrasi. Metode itu nantinya disesuaikan dengan standar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sehingga, keamanan air tersebut akan lebih terjamin. ”Kita berharap kemandirian air minum di Kota Malang bisa tercapai dalam kurun waktu itu (5 tahun),” ujarnya. Raymond, sapaan akrabnya, menambahkan kerja sama itu akan bersifat investasi Build Operate Transfer (BOT) selama 20 tahun.
Artinya Tugu Tirta bisa mengambil air sungai selama 20 tahun. Lebih lanjut dirinya menyampaikan tujuan kerja sama ini adalah keterjangkauan layanan kepada masyarakat yang lebih luas. Sehingga aksesnya yang mudah akan lebih bisa meringankan masyarakat. Ke depan air yang dimanfaatkan tidak hanya dari Sungai Bango saja. Melainkan, Sungai Metro pun juga berpotensi juga dimanfaatkan. (dre/adn) Editor : Mardi Sampurno