MALANG - Penggunaan nama pahlawan nasional dan tokoh lokal untuk jalan mulai masif dilakukan setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia. Pada periode 1924-1928, nama jalan di Malang kerap menggunakan imbuhan straat, –weg, atau –plain di akhir kata. Artinya sama-sama berarti ’jalan’.
Memasuki era kemerdekaan, Pemerintah Indonesia berupaya menghilangkan warisan kolonial. Upaya itu ditunjukkan dengan mengganti sebutan instansi pemerintahan dan fasilitas umum seperti jalan dengan Bahasa Indonesia.
Menurut salah satu pengurus Komunitas Jelajah Jejak Malang (JJM) Devan Firmansyah, perubahan tersebut semakin terasa saat pemerintah menerbitkan Permendagri Nomor 5 Tahun 1981 tentang Pembentukan Dusun dalam Desa dan Lingkungan dalam Kelurahan. ”Sejak peraturan itu dikeluarkan banyak dinamika terjadi. Nama jalan-jalan yang tidak berkaitan dengan toponim lokal mulai bermunculan,” jelasnya.
Alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu mengamati bahwa perubahan nama jalan banyak terjadi di Kota Malang. Berbeda dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu. Terlebih, jalan-jalan di Kota Batu yang masih banyak mengadopsi tokoh-tokoh lokal seperti yang banyak ditemui di Kecamatan Junrejo dan Kecamatan Bumiaji. ”Itu karena Kota Batu baru berdiri menjadi kotamadya pada 2001. Jadi masih banyak entitas-entitas lokal yang dipertahankan,” imbuh Devan.
Dia memberi contoh, di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, dia pernah bertemu dengan salah seorang petinggi yang memimpin kawasan tersebut sejak era kolonial hingga awal orde baru. Saat terakhir bertemu, sang petinggi berusia 90 tahun. Dia bercerita bahwa ada tokoh-tokoh lokal yang diabadikan menjadi nama jalan. Seperti Jalan Sarimun, Jalan Kandam, Jalan Damun, dan Jalan Sair.
Kota Malang juga memiliki jalan-jalan yang mewarisi nama tokoh-tokoh lokal. Antara lain Jalan Muharto, Jalan Aris Munandar, Jalan Ki Ageng Gribik, Jalan KH Abd Malik, dan Jalan Kyai Tamin. Kemudian, di Kabupaten Malang ada Jalan Hami Rusdi, Jalan Abdul Manan Wijaya, Jalan Badjuri, Jalan Usman Jannatin, Jalan Effendi, Jalan Abdul Razak, Jalan HM Said Sukoraharjo, hingga Jalan Subandi.
Saat Brigjen TNI Sugiyono atau Ebes Sugiyono menjabat sebagai Wali Kota Malang pada tahun 1973-1983, warga di sekitar Klojen Kidul sempat tidak sreg dengan pergantian nama dari Klodjen Kidoel-straat menjadi Jalan Gereja. Terlebih, di sekitar sana banyak warga muslim dan pondok pesantren.
Melihat ada potensi konflik, Ebes Sugiyono turun tangan. Kebetulan, Ebes Sugiyono kenal baik dengan Aris Munandar. Keduanya juga bersahabat. Dia pun membicarakan tentang penamaan jalan kepada Aris. Singkat cerita, nama Aris kemudian digunakan untuk penamaan jalan di sana. Warga di sana pun setuju.
Semasa muda, Aris pernah menjadi anggota PETA (Tentara Sukarela Pembela Tanah Air). Dia juga terlibat dalam pertempuran di beberapa daerah. Seperti perang pada 10 November 1945 di Surabaya. Dia juga ambil bagian dalam upaya menumpas PKI. ”Bapak sendiri sampai wafat tidak pernah mau menjelaskan kenapa kok mau namanya digunakan untuk nama jalan,” kata Fajar Trang Bawono, putra ketiga almarhum Aris Munandar.
Dia menuturkan, ada satu warga di sana yang sebetulnya mengetahui kisah penamaan nama Jalan Aris Munandar. Nama warga tersebut adalah Farouq. Sepengetahuan Fajar dari Farouq, penamaan jalan tersebut murni karena ayahnya ingin meredam konflik di sana.
Sembari membuka lembaran dua album foto lawas Aris, Fajar lantas menceritakan perjalanan sang ayah semasa hidup. Semua bermula saat Aris Munandar direkrut menjadi anggota PETA melalui rekrutmen terbuka yang dilakukan di Rembang, Jawa Tengah, tempatnya menuntut ilmu pada 1940-an.
Kala itu, Aris masih berusia 12 tahun. ”Jadi ada tentara yang mempromosikan PETA di sekolah bapak. Lalu bapak spontan ngacung untuk ikut. Setelah itu, bapak dibawa begitu saja tanpa berpamitan dengan keluarga di rumah,” cerita dia.
Saat duduk di sekolah rakyat (kini SD), Aris sudah menjadi yatim piatu. Di rumah, dia hanya tinggal bersama neneknya, tiga saudara kandung, dan satu saudara sambung. Dua tahun setelah direkrut PETA, Aris tiba-tiba kembali ke rumahnya di Rembang sambil membawa kuda putih, seragam, dan senjata.
Aris juga sudah mahir berbahasa Jepang dan memiliki jiwa kepemimpinan. Oleh kesatuan PETA, Aris diminta untuk membentuk kesatuan. Dia pun mengajak teman-temannya di kampung halaman agar tergabung dalam kesatuan. Total, ada 20 orang pemuda berusia 14 tahun yang tergabung pada kesatuan yang dibentuk Aris.
Selama menetap di Rembang, Aris bersama kesatuannya pernah mengawal Presiden Soekarno yang berkunjung ke beberapa daerah di Jawa pada 1942 untuk menyosialisasikan kemerdekaan. Kemudian tahun 1945, Aris terlibat dalam peperangan pertamanya di Surabaya yang melibatkan militer dengan militer melawan tentara NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie).
Saat peperangan, Aris untuk pertama kalinya melihat pertarungan militer bersama masyarakat. Salah satu kalangan masyarakat yang terlibat adalah Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah. ”Dari cerita bapak, masyarakat yang ikut bertempur benar-benar nekat saat itu. Padahal, bapak yang pernah mengikuti pendidikan perang bersama PETA sebenarnya ingin menggunakan taktik, tapi akhirnya ikut melebur,” jelasnya.
Setelah mengikuti perang di Surabaya, Aris yang saat itu dikenal sebagai penembak jitu turut bertempur di beberapa daerah lain. Misalnya saja, pertempuran di Semarang pada 1948. Peristiwa lain yang dialami Aris yakni Agresi Militer II. Saat itu, Aris pernah terkena luka akibat hantaman mortir yang mengakibatkan matanya terluka.
Akibatnya, hingga masa pensiun pada 1953, Aris menjadi penembak kidal. Dia lalu melanjutkan tugas di Kediri selama satu tahun. Selanjutnya, tahun 1954 sampai purna tugas, Aris menetap di Malang. Selama di Malang, Aris lebih banyak berperan untuk kegiatan Pramuka demi menghalau pengaruh PKI yang berkembang di tahun 1960-an. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana