MALANG KOTA - Informasi wilayah-wilayah di Kota Malang yang rawan longsor akan didetailkan pada 2024 nanti. Jumlah rumah atau hunian yang berada di wilayah rawan bencana bakal masuk dalam list BPBD Kota Malang. Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Malang Prayitno menerangkan, pemetaan akan dilakukan mulai dari tingkat kelurahan, RW, hingga RT.
”Nanti bisa diketahui, di satu kecamatan berapa kelurahan atau RT yang rawan bencana longsor. Kemudian datanya diharapkan bisa menyentuh titik rumahnya di mana, bisa by name dan by address,” papar Prayitno.
Sebelumnya, peta rawan bencana longsor yang dimiliki BPBD hanya memuat informasi secara umum.
Belum ada data jumlah rumah yang berdiri di daerah rawan longsor. Misalnya di Kecamatan Kedungkandang. Di sana ada tiga kelurahan yang rawan longsor. Yakni, Mergosono, Kotalama, dan Madyopuro. Sementara di Kecamatan Blimbing, ada Kelurahan Balearjosari, Pandanganwangi, dan Purwodadi.
”Dari data yang baru nanti, kemungkinan titik rawan longsor bisa saja bertambah. Sehingga perlu ada pembaruan dan kami ingin yang ini lebih detail lagi,” tambah Prayitno. Untuk menjalankan program pemetaan itu, ada anggaran Rp 120 juta yang telah disiapkan.
Prayitno menambahkan, pihaknya bakal bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk menyusun kajian itu. ”Biasanya kami menggandeng UB. Waktu pemetaan kurang lebih tiga bulan. Kalau sekarang sudah tidak bisa, baru bisa dilakukan tahun depan,” jelasnya.
Di tempat lain, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Malang Ahmad Fuad Rahman mendukung pemetaan yang dilakukan BPBD itu. Menurutnya, pemetaan yang lebih detail bakal mendukung upaya mitigasi bencana.
”Nanti juga harus ada tindak lanjutnya bagaimana. Apakah warga yang berada di area rawan longsor perlu dipindah atau bagaimana. Itu juga perlu dipikirkan oleh Pemkot Malang,” kata dia. (adk/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana