MALANG KOTA – Sepanjang 2023, perputaran uang di Malang Creative Center (MCC) baru mencapai Rp 670 juta.
Masih jauh dibanding biaya operasional yang mencapai Rp 6,35 miliar.
Meski demikian, Pemkot Malang menganggap biaya operasional dari APBD itu sebagai investasi dalam membangun pertumbuhan ekonomi kreatif.
Saat ini, gedung delapan lantai di Jalan A. Yani Kota Malang itu dimanfaatkan 17 UMKM. Mereka menempati lokasi yang tersebar di beberapa lantai.
Semuanya mendapatkan pembinaan dari segi model bisnis hingga pengelolaan dan pelaporan keuangan. Sepanjang tahun lalu, mereka mencatatkan total transaksi Rp 250 juta.
Selain tenant yang menetap, setiap event yang diselenggarakan di MCC juga menghadirkan tenant lain dalam jumlah lebih besar.
Mereka bahkan telah menyumbang transaksi sebesar Rp 420 juta selama setahun. Sehingga apabila ditotal, transaksi yang terjadi di MCC pada 2023 sebesar Rp 670 juta.
Manager Program MCC Agung Bagus Armanda menyebutkan, total transaksi tersebut diakumulasi dari 3.269 event yang telah terselenggara di MCC.
Setiap harinya setidaknya ada 5 hingga 20 event yang diselenggarakan oleh 17 subsektor ekonomi kreatif.
”Dari event-event itu telah menampung sekitar 280 ribu pengunjung,” tuturnya.
Dia menjelaskan, para UMKM yang berjualan di sana tidak dipungut biaya sama sekali.
Namun mereka akan dievaluasi secara berkala dengan sistem rapor.
Apabila UMKM tidak mencapai batas minimum skor, maka akan dilakukan penggantian.
Pihaknya benar-benar memastikan kualitas UMKM yang ada di MCC, apakah pemahaman mengenai model bisnis benarbenar diterapkan.
Seluruh fasilitas dan biaya operasional MCC ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Malang.
”Alokasi APBD untuk MCC idealnya dipandang bukan sebagai expenses, tetapi sebagai investasi terhadap ekosistem ekonomi kreatif di Malang serta SDM-nya,” terangnya.
Dampak dari investasi itu akan terasa beberapa waktu mendatang.
Dengan melihat angka perputaran uang yang terjadi di dalamnya, Arman berharap tujuan MCC dapat tercapai.
Utamanya dalam hal penurunan angka pengangguran terbuka, peningkatan PAD, dan nilai ekspor.
(dur/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana