MALANG KOTA – Rencana mengurai kemacetan di Jalan Muharto, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing terus dimatangkan.
Untuk jangka panjang, Pemkot Malang masih mengkaji opsi pelebaran jalan.
Untuk merealisasikan rencana itu, dibutuhkan sedikitnya pembebasan empat rumah.
Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Tri Rudy Irawanto mengakui pihaknya sering mendapat pengaduan kemacetan dari Polresta Malang Kota.
Polisi mendapat aduan dari masyarakat lewat aplikasi Jogo Malang.
”Jadi banyak yang mengeluhkan kemacetan di Jalan Muharto, terutama saat jam berangkat maupun pulang kerja,” kata dia kemarin (4/3).
Dari sana, dishub mulai melakukan penyusunan rencana jangka pendek dan jangka panjang.
Untuk jangka panjang ada rencana pelebaran jalan yang mengarah ke timur, lalu belok kanan.
Tepatnya ke arah tempat pemakaman Polehan.
Di sana terdapat sekitar empat rumah.
Jika memungkinkan, pemkot akan melakukan pembebasan.
Tujuannya untuk memperlancar akses Jalan Muharto.
Tepatnya di mulut simpang dekat makam.
”Sejauh ini masih akan kami kaji dan komunikasikan bersama perangkat setempat maupun warga,” tambah Rudy.
Sejauh ini, ada satu rumah yang dijual.
Status rumah tersebut juga sudah memiliki sertifikat hak milik (SHM).
Rudy mengestimasi rencana pelebaran Jalan Muharto bisa dilakukan pada 2026.
Untuk saat ini, dishub berencana melakukan rekayasa lalu lintas seperti kendaraan roda empat, yang tidak diperbolehkan belok ke kanan atau ke arah makam polehan.
Di samping itu, pihaknya berharap pedagang di Pasar Kebalen bisa bersih pada pukul 06.00.
Abdul Kholiq, warga Jalan Muharto Gang 8 RT 2 RW 8 Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing mengaku tidak setuju jika ada pelebaran jalan sampai harus melakukan pembebasan.
Sebab, rumahnya bisa jadi ikut terdampak.
”Mungkin bisa diperlebar yang mengarah ke makam saja. Bukan ke timur yang mengarah ke permukiman,” kata dia.
Kholiq mengakui bahwa pada jam sibuk seperti pukul 07.00-08.00 kerap terjadi macet.
”Ya intinya sih kalau saya tidak berkenan, karena kondisi di depan rumah sudah cukup sempit dan saya butuh ruang untuk anak-anak agar bisa bermain,” tambahnya.
Kalau perlu dia berharap pemkot mencari alternatif cara lainnya. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana