MALANG KOTA - Musim panen padi sudah terjadi mulai bulan lalu.
Kabarnya bakal berlangsung hingga Mei ini.
Dengan begitu, pasokan beras di pasaran cukup melimpah.
Menyikapi itu, penyaluran Beras Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP) yang dilakukan Bulog Malang melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tugu Aneka Usaha (Tunas) bakal dikurangi.
”Saat ini penyaluran beras SPHP masih jalan, tapi tidak sebanyak sebelumnya,” tutur Direktur Perumda Tunas Dodot Tri Widodo.
Baca Juga: Pulihkan Daya Beli, Wahyu Hidayat Gelontor Beras SPHP di Arjowinangun
Sebelumnya, rata-rata per hari pihaknya menyalurkan 12 ton. Namun saat ini hanya tersalur 10 ton per hari.
Penyaluran tersebut dilakukan di pasar tradisional dan toko kelontong yang ada di lima kecamatan di Kota Malang.
Sementara untuk toko retail modern, penyalurannya dilakukan pihak Bulog.
Jumlah beras yang disalurkan disesuaikan dengan permintaan dan kemampuan pedagang.
Sehingga pada musim panen seperti saat ini, permintaan beras SPHP memang berkurang.
Dodot menyebut, pada bulan Januari hingga Maret 2024, penyaluran beras SPHP mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
Pada 2023 rata-rata penyaluran per bulan sebanyak 170 ton. Namun pada tahun ini meningkat menjadi 340 ton.
Itu terjadi karena ada peningkatan penyaluran untuk toko-toko kelontong di seluruh kelurahan di Kota Malang.
Sementara untuk penyaluran di pasar, ada 10 pasar tradisional yang menjadi tujuannya.
Yakni Pasar Induk Gadang, Pasar Gadang Lama, Pasar Sukun, Pasar Kasin, Pasar Besar, Pasar Klojen, Pasar Tawangmangu, Pasar Dinoyo, Pasar sawojajar dan Pasar Mergan.
Dia menyebut bila beras medium yang dijual dengan harga murah itu berfungsi untuk menekan mahalnya harga beras di pasaran.
”Harga jual ke pedagang Rp 10.250 per kg, mereka harus menjual ke konsumen sebesar Rp 10.900 kg sesuai harga eceran tertinggi (HET) dan tidak boleh lebih tinggi,” terangnya. (dur/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana