MALANG KOTA - Industri keramik di Kota Malang sedang lesu.
Seperti dialami Dinikoe Keramik.
Usaha yang berlokasi di Jalan Tlogo Suryo, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru itu kini tidak terlalu mengambil untung yang besar.
Nur Hayati Setiarini, pemilik Dinikoe Keramik menjelaskan, saat ini bisa membayar gaji 30 pegawainya dan menghidupi keluarganya saja sudah bagus.
Kondisi itu berbeda dengan sebelum pandemi.
Baca Juga: Home Industri Keramik Dinoyo Terbakar
Untuk membeli aset atau melakukan perbaikan terhadap alat, dia mengaku cukup kesusahan.
Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat bisnis keramik lesu.
Seperti banyaknya barang impor dari Cina yang masuk dan dibanderol dengan harga murah.
Salah satunya cangkir seharga Rp 4.500.
”Di samping itu, bahan baku yang digunakan kebanyakan juga impor,” kata Nur Hayati, kemarin (11/7).
Dia memberi contoh, untuk pewarna berasal dari Korea.
Lalu bahan baku lainnya dari Cina.
Seluruhnya diimpor menggunakan mata uang dolar.
Kalau tidak tepat waktu dan tidak berinovasi secara mutu, Nur Hayati menyebut bila daya beli masyarakat bakal semakin turun.
Beruntung, dia bisa bertahan karena sudah memiliki langganan di 125 toko.
Baca Juga: Ketekunan Muchlis Arif Sutopo Mengembangkan Seni Pembuatan Keramik
Tersebar di Jawa, Makassar, Bali, dan Sumatra.
”Jadi kalau saya sendiri masih bisa bertahan. Harganya sudah kami tekan agar tetap laku,” tambah dia.
Selain memiliki langganan, Nur Hayati juga memiliki cara lain untuk memasarkan produknya.
Yakni berjualan melalui vendor bukan melalui platform e-commerce. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana