Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

544 Rumah Berdiri di Tepi Sungai Kota Malang

Fathoni Prakarsa Nanda • Jumat, 26 Juli 2024 | 20:00 WIB

 

Infografik Kondisi Sungai di Malang Raya.
Infografik Kondisi Sungai di Malang Raya.

Lahan Kritis DAS Brantas Hulu Mencapai 936 Hektare

MALANG RAYA – Kondisi sungai sebagai besar di Malang Raya masing terbilang memprihatinkan.

Di kawasan hulu, lahan di sekitar sungai banyak yang masuk kategori kritis.

Sementara kawasan hilir, air sungai cenderung kotor, mengalami pendangkalan hingga penyempitan.

Banyak sekali rumah yang dibangun di atas sempadan sungai.

Di Kota Malang mencapai 544 rumah.

Contohnya kondisi daerah aliran sungai (DAS) Brantas Hulu yang sudah mengalami banyak perubahan.

Terhitung sejak 1990, luas lahan kritis mencapai 936 hektare.

Mengutip Studi Pemodelan Laju Kawasan Erosi Brantas Hulu, lahan kritis itu terjadi akibat peningkatan jumlah tegalan atau lahan pertanian (77,1 persen), pengurangan hutan alami (34,3 persen), pengurangan perkebunan (6,8 persen), dan peningkatan lahan permukiman (7,5 persen).

Kondisi di atas berpotensi menjadi penyebab kerusakan sungai.

Seperti perubahan kontur, penyempitan, hingga pendangkalan.

Lahan di tepi sungai menjadi sulit menyerap air, sehingga bisa memicu longsor.

Menuju ke bagian hilir, permasalahan yang terjadi di DAS Brantas semakin beragam.

Contohnya di Kota Malang, sempadan sungai banyak digunakan menjadi permukiman.

Sama seperti di kawasan hulu, kondisi itu bisa menjadi pemicu bencana hydrometeorology.

Berdasar data Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang, ada 37 kelurahan yang memiliki permukiman di sempadan sungai.

Antara lain di Kelurahan Jodipan, Kelurahan Mergosono, Kelurahan Gading Kasri, Kelurahan Mojolangu, hingga Kelurahan Bakalankrajan.

”Di 37 kelurahan itu berdiri sekitar 544 rumah di sempadan sungai,” sebut Kepala Bidang Perkim DPUPRPKP Kota Malang Lukman Hidayat.

Untuk mengatasi permasalahan alih fungsi penggunaan DAS, pihaknya kini sedang menyusun kajian.

Tujuannya menemukan alternatif kondisi DAS yang sudah beralih fungsi.

Misalnya, rencana relokasi ke tempat yang aman dan membatasi munculnya bangunan baru.

Minimal bangunan harus memiliki jarak 15 meter dari sungai.

Kepala Divisi Wilayah Sungai Perum Jasa Tirta (PJT) I Hermawan Cahyo menjelaskan, untuk mencegah terjadinya bencana hydrometeorology di DAS Brantas, pemerintah sudah membangun infrastruktur tangkapan air.

Yang pertama adalah Bendungan Sutami, dibangun pada 1972.

”Kemudian dilanjutkan dengan Bendungan Sutami dan Bendungan Lahor,” terangnya.

Saat ini, daya tampung tiga waduk tersebut semakin berkurang.

Bendungan Sutami yang kapasitas awalnya 343 juta meter kubik, kini hanya 177,17 juta meter kubik.

Daya tampung Bendungan Sengguruh menurun dari 21,50 juta meter kubik menjadi 2,47 meter kubik.

Sedangkan kapasitas Bendungan Lahor yang semula 36,10 juta meter kubik turun menjadi 27,20 meter kubik.

Perubahan Aliran di Kota Batu

Kota Batu memiliki 51 anak sungai yang sebagian besar mengalir ke Sungai Brantas.

Panjangnya mulai dari 22,9 meter hingga 87.223 meter.

Sementara kedalamannya antara 0,78 meter hingga 5 meter.

Kepala Bidang SDA dan Jaringan Irigasi Dinas PUPR Kota Batu Wendy Prianta menjelaskan, perubahan alur atau bentuk sungai di hulu jarang terjadi.

Itu karena rata-rata kemiringan pada tepi area sungai sangat terjal dan menyerupai.

”Banyak dijumpai di belakang rumah penduduk ada jurang yang langsung ke sungai. Dengan tingkat kemiringan seperti itu, perubahan alur sungai secara alami jarang terjadi di Kota Batu,” ucapnya.

Perubahan lebih banyak terjadi karena faktor manusia.

Misalnya perumahan yang melakukan pengurukan untuk mempermudah pembuatan jalan.

Terakhir terdata ada di kawasan Desa Oro-Oro Ombo.

Alur sungai berbelok dari yang semestinya karena beberapa perumahan melakukan pengurukan untuk jalan keluar.

Yang lebih banyak terjadi adalah pendangkalan akibat alih fungsi lahan menjadi tegalan.

Tepi sungai yang sebelumnya ditumbuhi pohon berganti dengan tanaman kecil.

Akibatnya, sedimen ikut terbawa ke sungai ketika hujan.

”Akar sayuran tak dapat menahan sedimen tanah maupun menampung air,” ungkapnya.

Akibatnya, daya tampung sungai menjadi berkurang.

Ketika hujan deras turun, sungai tak bisa menampung air dan akhirnya meluap.

”Hal itu pula yang menyebabkan banjir tahunan di area Desa Bumiaji,” katanya.

Meski demikian, sungai di Kota Batu masih banyak berperan bagi kehidupan warga.

Misalnya untuk mengairi lahan pertanian dan bahan baku air bersih.

”Beberapa aliran sungai juga digunakan untuk wisata, olahraga air seperti rafting, dan beragam kebutuhan lainnya,” tandasnya.

Problem Sampah di Kabupaten

Catatan Komunitas Kaliku Lestari Nusantara menyebutkan sejumlah sungai di Kabupaten Malang mengalami pendangkalan.

Sedimen yang terjebak pada sampah jadi semakin mempercepat terjadinya pendangkalan.

Ketua Komunitas Kaliku Lestari Nusantara, Sugeng Widodo, 43, mengatakan, sedimen yang terbawa sungai sebenarnya bisa terus bergerak.

Namun, karena ada sampah, sedimen itu kemudian terjebak masuk ke sampah lalu mengendap.

Sampah jenis kain paling bisa menjebak sedimen.

Faktanya, sampah selalu ditemukan di sungai-sungai di Kabupaten Malang.

Mulai dari plastik, kaca, bekas popok bayi, kain, perabotan rumah, hingga ban mobil.

Selain pendangkalan, rata-rata sungai juga mengalami penyempitan.

Penyempitan bisa terjadi karena tumpukan sampah di sisi pinggir maupun longsor.

Alih fungsi lahan yang berujung penebangan pohon juga bisa menyebabkan longsor di bibir sungai.

Untungnya, sungai-sungai di Kabupaten Malang masih bisa dimanfaatkan.

Yang paling banyak untuk pertanian melalui saluran irigasi.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PUSDA) Kabupaten Malang Farid Habibah mengatakan ada 717 saluran irigasi yang sudah terdata.

“Terdiri dari saluran primer, sekunder, dan tersier,” katanya.

Sebagian besar sungai di Kabupaten Malang juga masih bisa dimanfaatkan untuk peternakan ikan.

Kini juga banyak yang dimanfaatkan untuk pariwisata dan olahraga air.

Seperti rafting di Kecamatan Kasembon. (mel/sif/iza/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Rumah #Kota Malang #tepi sungai