Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Festival Kampung Cempluk Malang, Padukan Konsep Manusia dan Alam

Aditya Novrian • Selasa, 24 September 2024 | 14:20 WIB
ANGGUN: Salah satu peserta pawai Festival Kampung Cempluk memakai pakaian bertema alam kemarin siang.
ANGGUN: Salah satu peserta pawai Festival Kampung Cempluk memakai pakaian bertema alam kemarin siang.

MALANG KOTA - Festival Kampung Cempluk kembali digelar kemarin (22/9).

Ada yang berbeda dengan event tahunan tersebut.

Tahun ini para peserta berkreasi dengan mengusung tema Asmara Lana Hayuning Bentala.

Ketua Komunitas Kampung Cempluk Alzam Darma Putra mengatakan, konsep ini dipilih karena pihaknya mengadopsi keharmonisan antara makhluk hidup dengan alam.

”Karena itu, dalam festival ada beberapa unsur warna hijau yang ditampilkan,” ucapnya.

Selain dari busana yang digunakan panitia juga ada gapura berwarna hijau.

Di samping itu, ada ornamen-ornamen alam seperti bambu hingga rumah gubuk seperti di sawah.

”Melalui tema ini, kami ingin mengedukasi masyarakat agar ke depan bisa lebih berkontribusi ke alam.

Salah satunya dengan pelestarian lingkungan,” imbuh Alzam.

Untuk pawai diikuti oleh 15 RT yang tersebar di dua RW di Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Mereka menampilkan kebudayaan khas Nusantara seperti Minang, Bali, hingga tari-tarian khas Jawa Timur.

Tidak hanya itu, ada juga penampilan dari beberapa lembaga pendidikan seperti dari mahasiswa Universitas Brawijaya.

Penampilan kebudayaan diarak dalam pawai mulai panggung yang ada di dekat SDN Kalisongo 3, Gapura Puncak Dieng, dan Kampus UB 2.

”Untuk rangkaian kegiatan di Festival Kampung Cempluk juga masih bisa dinikmati sampai 28 September mendatang,” terang Alzam.

Beberapa rangkaian kegiatan itu seperti teater, operet, puisi, penampilan band, jaranan, dan bantengan.

Kepala Desa Kalisongo Siswanto mengatakan, Festival Kampung Cempluk ke-14 menjadi bukti pihaknya mempertahankan tradisi di tengah perkembangan zaman.

”Untuk mempertahankan tradisi tempo dulu sulit, tapi kami berupaya agar festival ini bisa berjalan agar eksis terus,” tegasnya.

Di samping itu, pihaknya juga tetap menggelar kegiatan dengan konsep ekonomi kemasyarakatan, sosial, dan guyub. (mel/adn)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Padukan #alam #Konsep #Manusia #festival kampung