Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Sidang Terbuka Senat Akademik Pengukuhan Guru Besar di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) A19 Lantai 9 hari ini (27/2).
Ada lima profesor yang dikukuhkan.
Mereka adalah lain Prof Dr Karyadi MP MT, Prof Aripriharta ST MT PhD, Prof Dr Gatut Susanto MM MPd, Prof Dr H Sucipto MS, dan Prof Dr Eng Mokh Sholihul Hadi ST M Eng.
Jadikan Bambu Laminasi sebagai Material Bangunan
Prof Dr Karyadi MP MT, Gubes Teknik Sipil dan Perencanaan
DALAM penelitiannya, Prof Dr Karyadi MP MT membuktikan bahwa bambu laminasi dapat menjadi alternatif material bangunanan untuk hunian anti-gempa.
Bambu laminasi adalah bambu hasil rekayasa menggunakan bahan dasar bambu dan perekat.
Bambu laminasi memiliki sifat mekanik setara dengan kayu kelas kuat II seperti jati dan kamper.
Yakni dengan kuat tekan mencapai 59,08 MPa.
”Material ini memiliki daya tahan tinggi namun tetap ringan, jadi ideal untuk daerah rawan gempa,” tuturnya.
Beberapa penelitian yang menggunakan bambu petung menunjukkan bahwa rasio kekuatan terhadap massa jenis bambu laminasi lebih unggul dibandingkan beton dan mendekati kekuatan baja.
Selain itu, bambu laminasi ini juga mampu meningkatkan performa struktur sekaligus mengurangi berat bangunan.
”Tampilanny juga lebih estetis pada bangunan,” kata dia.
Konverter Cerdas untuk Sistem Tenaga Surya
Prof Aripriharta ST MT PhD, Gubes Teknik Elektronika dan Informatika
TRANSFORMASI energi hijau semakin dibutuhkan di tengah meningkatnya emisi karbon global.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof Aripriharta PhD mengembanglan konverter cerdas yang diberi nama Srengenge 4.0.
Dilengkapi kecerdasan buatan berbasis Queen Honey Bee Migration (QHBM), Srengenge 4.0 memungkinkan sistem fotovoltaik (PV) otonom beradaptasi dengan kondisi pencahayaan yang fluktuatif.
Berdasar pengujian, inovasi itu meningkatkan efisiensi daya hingga 11 persen diban dingkan metode konven sional.
”Jadi saat cuaca ekstrem dia (konverter) lebih stagnan,” tuturnya.
Teknologi itu telah teruji di berbagai lokasi, seperti Malang, Pasuruan, dan Probolinggo, untuk berbagai kebu tuhan, termasuk pompa air irigasi dan rooftop PV.
Dengan tiga hak paten yang telah diperoleh, Srengenge 4.0 menjadi langkah nyata menuju kemandirian energi dan keberlanjutan lingkungan.
Perkuat Bahasa Indonesia di Kancah Internasional
Prof Dr Gatut Susanto MM MPd, Gubes Sastra Indonesia
UPAYA meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa inter nasional terus dilakukan pemerintah melalui berbagai kebijakan strategis.
Terutama da lam pengembangan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
Salah satu pencapaian penting adalah pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO pada 2023.
Prof Dr Gatut Susanto MM MPd menyebut sejumlah regulasi telah diterbitkan untuk memperkuat posisi Bahasa Indonesia di kancah global.
Termasuk UU Nomor 24 Tahun 2009 yang menegaskan peningkatan fungsi Bahasa Indonesia secara bertahap dan berkelanjutan.
”Selain itu, berbagai peraturan menteri dari sektor pendidikan hingga ketenagakerjaan juga turut mendukung pengajaran BIPA, baik di dalam maupun luar negeri,” ungkapnya.
Rekam jejak penguatan BIPA dapat dilihat dalam Kongres Bahasa Indonesia yang telah membahas perkembangan pengajaran Bahasa Indonesia di luar negeri sejak 1988.
“Saat ini, Bahasa Indonesia diajarkan di 54 negara, termasuk di universitas-universitas terkemuka di Amerika, Australia, dan Jepang,” ungkap Gatut.
Dukungan dari berbagai lembaga seperti badan bahasa, universitas, serta organisasi Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA) berperan penting dalam ekspansi pengajaran BIPA.
Berdayakan Masyarakat Desa melalui PKBM
Prof Dr Sucipto MS, Gubes Pendidikan Luar Sekolah
PUSAT Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) terus menun jukkan perannya da lam pemberdayaan masyarakat desa di Indonesia.
Melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan, PKBM dinilai berhasil mening katkan kualitas sumber daya manusia, memperbaiki indeks literasi, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Menurut Prof Dr H Sucipto MS dalam hasil meta-analisis kualitatifnya, proses pem ber dayaan yang dilakukan PKBM mencakup lima kegiatan utama.
Yakni penyadaran, peng kapasitasan, pendampingan, penguatan, dan pengakaran.
Kelima tahapan itu ber kon tribusi pada peru bahan perilaku indi vidu dan kelom pok dalam mengem bangkan keterampilan serta memecahkan berbagai permasa lahan kehidupan.
Dia mengatakan, desa-desa yang sebenarnya memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, namun sumber daya manusia yang dimiliki kurang menyadarinya.
”Salah satunya desa di daerah Bajul Mati, Kabupaten Malang, kami hadir di situ dan muncul gagasan pengembangna wisata,” tuturnya.
Meskipun PKBM bukan satu satunya lembaga pendidikan nonformal, persaingan dengan lembaga serupa seperti kursus dan pelatihan kerja menjadi tantangan tersendiri.
Penerapan IoT Bisa di Berbagai Sektor
Prof Dr Eng Mokh Sholihul Hadi ST M Eng, Gubes Teknik Elektronika dan Informatika
INTERNET of Things (IoT) memiliki potensi besar dalam mendukung transformasi digital di Indonesia.
Prof Dr Eng Mokh Sholihul me nyebut peluang penerapan teknologi ini bisa di sektor pertanian, kesehatan, energi, transportasi, hingga industri.
Dalam bidang pertanian, IoT diterapkan pada indoor farming yang memungkinkan sistem kendali berbasis kecerdasan buatan untuk menyesuaikan kondisi lingkungan tanaman secara otomatis.
Di sektor perikanan, IoT dikombinasikan dengan AI untuk meningkatkan efisiensi budidaya tambak udang melalui pemantauan kualitas air berbasis Wireless Sensor Network.
Di dunia medis, IoT memung kinkan pengembangan teleme dicine. Yakni perangkat medis terhubung ke cloud untuk analisis data kesehatan pasien secara real-time.
”Sistem ini memung kinkan tenaga medis mengambil tindakan jarak jauh melalui aplikasi smartphone,” tuturnya.
Sementara itu, dalam penge lolaan energi, teknologi digital twins diterapkan pada smart building.
Hal itu memungkinkan pengguna mengontrol konsumsi daya melalui model 3D interaktif.
Di sektor industri, IoT diterapkan pada mesin pasteurisasi susu otomatis.
Sedangkan di bidang trans portasi, riset kolaboratif mengembangkan teknologi komunikasi antar kendaraan listrik untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Prof Sholihul menegaskan, dengan dukungan kebijakan dan infrastruktur yang tepat, IoT akan menjadi katalisator utama menuju visi Indonesia Emas 2045. (dur/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana