Bayu Mulya Putra• Minggu, 9 Maret 2025 | 18:10 WIB
DESAIN DARI CSR: Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Malang mengusulkan agar lampu diganti dengan model stadsklok atau jam kota.
IAI Usul Lebar Pedestrian Dibuat Sama dari Zona 1 sampai 3
MALANG KOTA – Tampilan koridor Kajoetangan Heritage bisa jadi berubah.
Saat ini, Pemkot Malang tengah menggodok desain baru.
Mereka bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kota Malang.
Jika sesuai desain yang disusun IAI, Kajoetangan bakal didominasi nuansa warna abu-abu.
Perubahan yang paling mencolok terjadi pada lampu di Kajoetangan.
Grafis alasan koridor Kajoetangan perlu di rombak ulang.
Sebelumnya didominasi warna hijau dan kuning, menurut desain IAI, itu akan diubah menjadi warna abu-abu.
Secara model juga berbeda dibanding yang sekarang.
Seperti diketahui, lampu Kajoetangan saat ini hampir serupa dengan yang ada di Malioboro.
Ada rencana diubah dengan mengadopsi bentuk Stadsklok Kajoetangan atau jam kota yang berada di depan PLN.
”Kami memilih lampu dengan model stadsklok karena itu identitas asli Kajoetangan. Sesuai dari tujuan awal redesain ini, yaitu memberikan ciri khas di kawasan tersebut,” terang Ketua IAI Kota Malang, Armudya Indra Permana.
Indra menuturkan, wajah koridor Kajoetangan saat ini tidak memiliki ciri khas, hampir sama dengan yang ada di kota lain.
Jika ingin kawasan tersebut lebih berkembang, harus ada sesuatu yang berbeda.
”Kami sengaja memilih mayoritas warna abu-abu pada desain baru untuk menunjukkan suasana retro. Sebab, banyak bangunan yang sudah direnovasi. Harapannya, dengan warna itu bisa sedikit mengembalikan suasana zaman dulu,” jelasnya.
Selain terdapat di lampu, warna itu juga akan diaplikasikan pada komponen lain, seperti pedestrian koridor dan Jalan Raya Basuki Rahmat.
Ruas jalan akan dibuat garis vertikal berwarna abu-abu.
”Tak hanya perubahan warna, pedestrian juga akan diperlebar. Nanti semua lebarnya sama dari zona satu sampai zona tiga,” tutur Indra.
Saat ini, pedestrian di Kajoetangan memiliki lebar yang berbeda-beda.
Zona tiga, mulai dari Telkomsel Kajoetangan hingga titik tengah (pintu utama Kampung Kajoetangan), lebarnya sekitar enam meter.
Zona dua, dari titik tengah koridor hingga simpang Radjabally, lebar pedestriannya hanya dua meter.
Itu serupa dengan kondisi zona satu, dari Kafe Lafayette hingga Hotel Trio Indah, dengan lebar jalur untuk pejalan kaki juga dua meter.
”Desain ulang ini bertujuan agar tiga zona Kajoetangan hidup. Bisa diketahui sendiri, zona satu saat ini kurang diminati, hanya untuk lalu lintas saja. Kebanyakan yang hidup di zona dua dan tiga,” papar Indra.
Lebih lanjut, IAI Kota Malang juga menginginkan adanya pembongkaran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).
Fasilitas tersebut dianggap menghalangi pemandangan Gereja Katolik Hati Yesus Kudus atau Gereja Kajoetangan.
Komponen lain yang diusulkan dibongkar yaitu monumen telepon.
Kemudian ada juga monumen lokomotif lori yang berada di dekat gereja.
”Karena di sana bukan lori, seharusnya menggunakan monumen trem,” imbuhnya.
Lebih lanjut, koridor tersebut juga bisa ditambah dengan papan reklame kecil di beberapa titik.
Itu akan menjadi pendapatan baru melalui pajak reklame.
”Ini baru sebatas usulan awal, nanti akan dilakukan koordinasi lagi dengan Pemkot Malang dan tim cagar budaya,” terang Indra.
Ditanya terkait perkiraan anggaran, IAI belum bisa menyebut hal tersebut.
Sebab, desain tersebut belum final.
Kemungkinan ada sedikit perubahan, tergantung usulan dari pemkot maupun stakeholder lainnya.
”Desain ini merupakan CSR (Corporate Social Responsibility) dari kami untuk pengembangan Kajoetangan Heritage. Tidak ada bayaran untuk ini, murni kami ingin Kajoetangan lebih baik ke depannya,” tandas dia.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Siraduhitta, menuturkan, kajian pengembangan itu harus dilakukan secara serius.
Jika memang perubahan desain masuk akal, dewan akan menyetujui hal tersebut.
”Kalau memang sekiranya masuk di akal, atau memang itu perlu dilakukan dan ada imbasnya, tentu tidak masalah,” jelasnya.
Hanya saja, dia menekankan bahwa konsep yang dirancang harus lebih greget.
Sebab, dewan tidak akan ragu menolak rencana itu ketika arahnya tidak jelas.
Perempuan yang akrab disapa Mia itu menjelaskan, sebenarnya infrastruktur Kajoetangan sudah baik.
Ditambah lagi, sudah ada pembangunan kantong parkir baru.
Tetapi, dia tidak membantah, koridor tersebut belum memiliki karakteristik.
Dia berharap, rencana revitalisasi harus ada hal yang ditonjolkan, baik dari sisi sejarah, filosofi, maupun manfaatnya kepada masyarakat.
”Kami di dewan juga masih ragu, sebenarnya Kajoetangan ini heritagenya benar-benar menonjol atau tidak. Bisa jadi ramai karena kuliner yang ada di depan saja,” ungkap Mia.
Untuk itu, politisi PDIP itu meminta Pemkot Malang mempertegas arah revitalisasi.
”Nanti kami akan evaluasi dulu sebelum revitalisasi,” tegas dia.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, menuturkan, desain ulang itu jadi bagian dari upaya meningkatkan daya tarik Kajoetangan.
Dengan pelebaran pedestrian, pengunjung akan lebih leluasa dan nyaman menjelajah destinasi wisata tersebut.
Untuk pelaksanaannya, kecil kemungkinan bisa dimulai tahun ini.
Sebab, belum dianggarkan dalam APBD 2025.
Bila disetujui semua pihak, Pemkot Malang akan mengupayakan anggarannya lewat APBD 2026.
”Pengembangan ini harapannya tidak dirasakan di koridor saja. Tetapi bisa berdampak di area perkampungannya,” pungkas Baihaqi. (adk/by)