Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Kuil Shinto Ching Nan Jinja Pernah Berdiri di Kota Malang

Aditya Novrian • Rabu, 24 September 2025 | 17:58 WIB
TINGGAL KENANGAN: Bangunan Kuil Shinto Ching Nan Jinja di Jalan Veteran selesai dibangun Jepang pada 1943 silam.
TINGGAL KENANGAN: Bangunan Kuil Shinto Ching Nan Jinja di Jalan Veteran selesai dibangun Jepang pada 1943 silam.

 

Hanya Bertahan Dua Tahun, lalu Dihancurkan Jepang

Tak banyak yang tahu, Taman Makam Pahlawan Suropati dulunya menjadi lokasi sebuah kuil Shinto megah bernama Ching Nan Jinja. Dibangun Jepang pada 1943, kuil itu justru dihancurkan oleh mereka sendiri. Kini hanya deretan pohon cemara yang tersisa sebagai saksi bisu sejarah.

DI BALIK rindangnya Jalan Veteran, siapa sangka pernah berdiri sebuah bangunan megah yang kini nyaris tak bersisa. Bukan rumah kolonial bergaya Indis atau vila-vila peninggalan Belanda. Melainkan sebuah kuil khas negeri Matahari Terbit.

Namanya Ching Nan Jinja. Sebuah rumah ibadah agama Shinto yang dibangun Jepang pada masa pendudukan mereka di Indonesia. Kuil itu berdiri pada tahun 1943, ketika Jepang sedang di puncak kekuasaannya di Asia Timur.

BERUBAH FUNGSI: Bekas Kuil Shinto Ching Nan Jinja kini menjadi TMP Suropati. Jejak sejarah yang tersisa hanyalah deretan pohon cemara.
BERUBAH FUNGSI: Bekas Kuil Shinto Ching Nan Jinja kini menjadi TMP Suropati. Jejak sejarah yang tersisa hanyalah deretan pohon cemara.

Lokasinya berada di lahan yang kini menjadi Taman Makam Pahlawan (TMP) Suropati. Kala itu, tempat tersebut masih berupa tanah lapang luas, sedikit berbukit, dipagari pepohonan dan semak-semak lebat.

Kemudian Jepang memanfaatkan lahan tersebut utnuk membangun kuil. Mereka menyebutnya Jinja. Dalam budaya Jepang, Jinja adalah rumah bagi para roh-roh suci dalam kepercayaan Shinto.

Biasanya, bangunan ini dibangun dengan arsitektur kayu khas Jepang lengkap dengan torii, gerbang merah menyala yang menjadi pintu masuk menuju dunia suci. Begitu pula Ching Nan Jinja di Malang. Menurut sejarawan komunitas History Fun Walk Malang Hannu Ayodya Mamola, kuil ini dibangun dengan material kayu jati pilihan. Bahkan didatangkan langsung dari luar daerah.

”Konon, arsiteknya adalah orang Jepang yang sangat berpengaruh. Tapi namanya tidak pernah dicatat dalam arsip-arsip resmi,” ujar Hannu. Yang jelas, pembangunan kuil ini bukan proyek kecil. Semuanya dirancang mewah dan agung, menandakan pentingnya posisi spiritual bangsa Jepang saat itu. Bahkan di tanah jajahan.

Peta kuno buatan Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS) tahun 1945 mencatat keberadaan kuil ini dengan jelas. Dalam peta tersebut, kuil ini diberi nomor 16 berdiri gagah di sisi utara pacuan kuda yang kini dikenal sebagai Simpang Balapan. Di seberangnya, terdapat kamp tahanan perempuan dan anak-anak.

Suasana masa itu jelas berbeda jauh dengan wajah modern Malang hari ini. Bahkan sebuah artikel dari koran berbahasa Belanda Nieuwe Courant edisi 1947 mencatat keberadaan kuil itu. Dalam artikel bertajuk Japanse Tempel te Malang (Kuil Jepang di Malang), digambarkan bahwa kuil tersebut di dekat kawasan Ijen Boulevard.

Namun, sejarah punya cara sendiri untuk menghapus jejak. Hanya dua tahun setelah dibangun, kuil itu dihancurkan Jepang sendiri. Bukan karena waktu yang melapukkan kayu jati atau karena perang yang menghanguskan segalanya. Tapi karena keputusan strategis dan spiritual.

Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu di tahun 1945, mereka tahu Belanda akan segera kembali. Maka sebelum tempat suci mereka ”dinodai", Jepang memutuskan untuk menghancurkan kuil itu. Membakar habis. Menghapus semua jejaknya, seolah tak pernah ada.

”Bagi Jepang, Jinja adalah tempat yang sakral. Mereka tidak rela kuil itu diambil alih Belanda dan dijadikan markas atau tempat sembarangan,” terang Hannu.

Maka, Ching Nan Jinja dibumihanguskan. Hanya tanahnya yang tertinggal, kemudian dijadikan tempat peristirahatan terakhir para pahlawan Indonesia.

Namun, ingatan akan kemegahan kuil itu masih hidup. Setidaknya di antara mereka yang peduli pada sejarah. ”Saat peresmiannya pada 1943, acara digelar besar-besaran. Ada arak-arakan dari Stadion Gajayana ke lokasi kuil, ada pertunjukan seni, bahkan pertandingan sumo,” kisah Hannu.

Menariknya, walau dibangun besar-besaran, Jinja bukan tempat ibadah umum. Tidak dibuka untuk pribumi atau warga lokal. Hanya untuk tentara Jepang dan warga sipil asal Jepang yang tinggal di Malang saat itu.

Jumlahnya pun tak banyak. Diperkirakan kurang dari seribu orang yang beragama Shinto di kota ini pada masa itu. Tapi semangat untuk menunjukkan eksistensi kekuasaan Jepang begitu kuat, hingga mereka membangun Jinja di 13 kota besar di Indonesia, termasuk Medan, Surabaya, Makassar, hingga Manado.

Yang terbesar ada di Medan. Malang menempati urutan kedua. Kini, satu-satunya jejak yang masih bisa diraba hanyalah deretan pohon cemara yang berdiri tegak di tepi TMP Suropati. Pohon-pohon itu, kata Hannu, adalah saksi bisu dari kuil yang pernah berdiri di sana.

Bibitnya dibawa langsung dari Jepang dan ditanam sebagai bagian dari lanskap asli Jinja. Waktu boleh menghapus bangunannya, tapi tidak semua akarnya.

Dalam diamnya TMP Suropati, ternyata tersimpan lebih dari sekadar kisah perjuangan. Ada juga cerita tentang keyakinan, kekuasaan, dan kehancuran yang disengaja. Jejak kuil Shinto di Kota Malang mungkin telah lenyap dari pandangan, tapi tidak dari sejarah. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#tmp #peninggalan belanda #Shinto #kuil