PAGI itu awan tipis menggantung di atas area Velodrome, Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang. Udara terasa sejuk karena tertahan rindangnya pepohonan yang menaungi deretan kios di sisi jalan. Di depan kios-kios sederhana itu, papan putih bertuliskan Pasar Buku dan Seni Velodrome berdiri tanpa banyak ornamen.
Tulisan itu seperti penanda sebuah ruang yang pelan-pelan menua, namun masih menyimpan denyut kehidupan. Di sela deretan kios buku, kini berdiri beberapa kafe dan warung kopi. Aroma kopi sesekali bercampur dengan bau kertas tua dari tumpukan buku.
Pengunjung yang datang tak lagi hanya mencari bacaan. Sebagian memilih duduk santai, menyeruput kopi sambil berbincang. Pasar Buku Velodrome tak lagi sama seperti saat pertama kali para pedagang direlokasi ke tempat itu pada 2009. Jumlah pedagang terus menyusut, menyisakan belasan kios yang bertahan.
Salah satu yang masih setia adalah Dodik Irawan. Di kios sempitnya, pria 43 tahun itu sibuk merapikan buku-buku yang tersusun rapat di rak kayu. Tangannya cekatan mengelap sampul buku lawas yang mulai berdebu.
Sudah 17 tahun Dodik menjalani hidup sebagai pedagang buku. Dia menjadi saksi perjalanan panjang Pasar Buku Velodrome, dari masa ramai hingga kini cenderung sepi.
Pada 2009, Dodik bersama 71 pedagang buku lainnya harus menerima keputusan relokasi dari area depan Stasiun Malang. Saat itu Pemkot Malang menata kawasan tersebut. Para pedagang diberi pilihan pindah ke Comboran atau Velodrome. Setelah mempertimbangkan akses, mereka sepakat memilih Velodrome.
Velodrome dinilai lebih mudah dijangkau. Namun lokasinya yang tidak berada di pusat kota perlahan berdampak pada jumlah pengunjung. Pelanggan yang dulu rutin datang mulai berkurang. Aktivitas seni yang sempat digelar rutin setiap tanggal 28 pun kini tak lagi ada.
”Dulu di sini tanggal 28 setiap bulannya ada acara seni. Sekarang tidak ada lagi sehingga semakin sepi,” ujar Dodik.
Awalnya ada 72 pedagang yang menempati kawasan itu. Tahun 2023 jumlahnya masih sekitar 50. Namun tekanan ekonomi dan penurunan penjualan membuat banyak pedagang angkat kaki. Memasuki 2025 hingga awal 2026, hanya 15 pedagang yang bertahan. Sebagian besar harus mencari pekerjaan sampingan untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
Ada yang menjadi makelar, membuka warung, kedai kopi, hingga usaha karaoke. Dodik memilih tetap bertahan di dunia yang sudah dia cintai sejak muda. Meski begitu, dia menyadari perubahan zaman tak bisa dihindari.
Kini Dodik aktif memasarkan buku secara daring melalui facebook dan Instagram. Ponselnya menjadi etalase tambahan bagi ribuan koleksi buku yang dia miliki. ”Setiap pedagang memiliki strategi sendiri. Kalau saya memang suka menjaga dan merawat pelanggan. Rutin saya tawari buku-buku bagus,” ungkapnya.
Di kiosnya tersimpan sekitar 5.000 buku lawas. Koleksinya beragam, mulai buku sejarah, politik, hingga komik lokal. Buku-buku itu tertata rapat, sebagian sudah menguning dimakan usia. Namun justru di situlah nilainya. Buku lawas dengan nilai historis dan tingkat kelangkaan tertentu bisa dihargai lebih tinggi dibanding buku baru.
Kolektor dari berbagai daerah sesekali datang mencari judul tertentu. Ada pula yang memesan dari luar kota. Dodik kerap mengirim buku hingga ke Pasar Buku Wilis.
”Tapi di sini masih terjangkau. Terkadang saya juga kirim ke Pasar Buku Wilis. Rezeki ada saja sebenarnya,” ucapnya sambil merapikan susunan buku.
Meski begitu, Dodik tak menampik penurunan penjualan yang cukup tajam. Saat masih berjualan di depan stasiun, dia bisa menjual hingga 50 buku setiap pekan. Kini, menjual 20 buku saja sudah tergolong bagus. Pasar minggu di Velodrome belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan.
Perkembangan media digital dan tingkat literasi yang belum optimal ikut memengaruhi kondisi tersebut. Persaingan dengan penjual buku lain, termasuk platform daring besar, semakin ketat.
”Jualan buku bekas itu kalau dari keuntungan sebenarnya bagus, cuma pembelinya menurun. Selain faktor digital, daya saing penjual buku lebih ketat,” beber alumnus SMKN 5 Kota Malang itu.
Meski hampir semua pedagang mengeluhkan sepinya pembeli, mereka masih percaya buku lawas memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya. Nilai pengetahuan yang tersimpan di dalamnya dianggap tak lekang oleh waktu. Keyakinan itu pula yang membuat Dodik enggan beralih profesi.
Dia terus mencari cara untuk menjaga napas usahanya. Selain memperkuat penjualan online, Dodik bermimpi menggelar acara khusus tentang buku lawas untuk menarik minat pengunjung. Namun rencana itu terkendala biaya karena belum ada dukungan sponsor.
Di tengah tumpukan buku yang memenuhi kios sempitnya, Dodik menyimpan harapan sederhana. Selama masih ada orang yang mencari cerita, menikmati sentuhan kertas, dan menghirup aroma buku tua, kiosnya akan tetap berdiri.
”Yang penting sejak awal jualan, saya terus merawat pelanggan, melayani pelanggan. Itu yang bikin berlanjut,” tutur warga Jodipan itu.
Dia juga berharap ada perhatian dari para pemangku kebijakan di Kota Malang. Menurutnya, pedagang buku layak mendapat ruang dialog dan dukungan yang setara dengan pelaku usaha lainnya.
“Minimal kami diperhatikan, diakui dan diajak komunikasi. Kalau sekarang dibiarkan saja oleh pemerintah,” tandas Dodik. (*/adn)
Editor : A. Nugroho