Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Potensi Zakat Menggeliat! Perolehan Zakat Kota Malang Tembus Rp40 Miliar

Aditya Novrian • Minggu, 1 Maret 2026 | 13:50 WIB

LEBIHI TARGET: Perolehan zakat di Kota Malang mencapai Rp40 Miliar lebihi target yang direncanakan. (Freepik)
LEBIHI TARGET: Perolehan zakat di Kota Malang mencapai Rp40 Miliar lebihi target yang direncanakan. (Freepik)

MALANG KOTA - Potensi zakat di Kota Malang cukup besar. Tahun lalu, setoran zakat, infak, dan sedekah dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat menembus Rp 40 miliar. Dana yang mengalir ke lumbung zakat melampaui target Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, yakni Rp 36 miliar per tahun. 

Dihimpun Lembaga di Luar BAZNAS

2024

2025

2026

Dihimpun BAZNAS

2024

2025

2026

Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan BAZNAS Kota Malang Edy Hayatullah mengatakan, setiap tahun pihaknya menghimpun zakat melalui dua mekanisme pencatatan. Yakni pencatatan secara off-balance sheet dan on-balance sheet.

Edy menjelaskan, off-balance sheet adalah pencatatan dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya yang dikelola oleh masyarakat, masjid, atau yayasan. Namun tidak tercatat secara resmi dalam neraca keuangan BAZNAS.

Untuk mengetahui jumlah perolehan zakat dengan mekanisme tersebut, BAZNAS menghimpun data dari Lembaga Amil Zakat (LAZ).

"Di Kota Malang, ada tiga LAZ lokal atau LAZ yang memang didirikan di sini,” ujar Edy kemarin (28/2).

Selain LAZ lokal, Edy melanjutkan, ada sekitar 18 LAZ nasional. Yakni LAZ di tingkat nasional tetapi memiliki cabang di Kota Malang. Salah satunya adalah Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF).

"Sedangkan on-balance sheet itu dihimpun dari zakat yang kami peroleh sendiri dan tercatat dalam neraca keuangan BAZNAS," terangnya. Namun, realisasi selama tiga tahun terakhir masih di bawah target.

Berbeda dengan realisasi zakat dari mekanisme pencatatan off balance sheet. Selama tiga tahun terakhir, targetnya berkisar sekitar Rp 30 miliar per tahun. Realisasinya selalu melampauinya.

Dia menyebut pada 2025 lalu mencapai Rp 40 miliar. Jumlah tersebut diperoleh dari pihak luar maupun mitra di masyarakat.

"Selain itu, perolehan off-balance sheet tahun lalu juga ditopang program titipan dari BAZNAS Provinsi Jawa Timur," sebut Edy.

Bentuk programnya mengarah pada pemberdayaan masyarakat seperti bantuan pembangunan kedai kopi yang disebut Z-Coffe. Ada pula program pemberdayaan yang disebut Z-Auto hingga penyaluran rombong usaha. Seluruh program diperuntukkan bagi orang yang berhak menerima zakat.

Sementara untuk perolehan zakat melalui mekanisme on-balance sheet, dia melanjutkan, sebenarnya ditarget Rp 6 miliar per tahun. Pada 2025 dan 2026 meningkat menjadi Rp 6,3 miliar. Namun realisasinya belum mencapai 100 persen.

Menurut Edy, ada beberapa tantangan yang membuat perolehan zakat on-balance sheet masih rendah. Pertama, masih banyak masyarakat yang menganggap BAZNAS adalah badan pengumpulan zakat khusus aparatur sipil negara (ASN). Akibatnya, masyarakat cenderung menyalurkan zakat lewat masjid yang dekat dengan rumahnya.

 "Padahal kami terbuka jika ada masyarakat yang mau menyalurkan zakat lewat kami," tegas dia.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, BAZNAS Kota Malang dihubungi seorang pengusaha asal Kalimantan. Pengusaha tersebut ingin menyalurkan zakat untuk warga Kota Malang. Pihaknya menyanggupi. Sebab sekarang doa dan niat berzakat bisa difasilitasi secara daring.

Kedua, lanjutnya, selama ini di lingkungan ASN Kota Malang belum sepenuhnya menyalurkan zakat lewat BAZNAS. Dari unit pengumpul zakat (UPZ) di pemkot, baru menghimpun sedekah.

"Setiap bulan targetnya di lingkungan pemkot adalah Rp 1 miliar per bulan, tapi realisasinya di angka Rp 100 juta per bulan," ungkap dia.

Oleh karena itu, ke depan BAZNAS Kota Malang akan gencar sosialisasi. Termasuk giat menghimpun zakat melalui UPZ di 33 organisasi perangkat daerah. Kemudian UPZ swasta yang ada di Grand Mercure Mirama Malang dan Perum Jasa Tirta I.

Selain lewat UPZ, dia mengatakan, BAZNAS Kota Malang juga getol menghimpun zakat saat Ramadan. Saat Ramadan, perolehan zakat biasanya berkisar antara Rp 400 juta sampai Rp 500 juta. Perolehan itu didapat dari program Gebyar Lailatul Qodar seperti yang digelar di Grand Mercure Mirama Malang pada 21 Februari lalu.

Kemudian ada pembukaan gerai zakat bekerja sama dengan Bank Indonesia Malang dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang. Pembukaan gerai itu sudah rutin dilakukan setiap Ramadan.

"Tahun ini ada empat gerai yang dibuka. Lokasinya di Kantor OJK Malang, Kantor Kemenag Kota Malang, pemkot, serta satu bank yang masih didiskusikan," tuturnya.

Untuk gerai zakat, rencananya dibuka sepekan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Di sana, masyarakat bisa menyalurkan zakat melalui pembayaran elektronik seperti transfer dan scan QRIS maupun membayar secara langsung. Khusus zakat fitrah yang dibayarkan, ditetapkan sebesar Rp 50 ribu.

Edy menambahkan, baik zakat, infak, maupun sedekah yang dihimpun nantinya disalurkan kepada yang membutuhkan. Untuk zakat penyalurannya kepada delapan golongan. Yaitu fakir, miskin, riqab (hamba sahaya), gharim (orang yang memiliki utang), mualaf, fiisabilillah (pejuang agama Islam), ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan jauh), dan amil (orang yang menyalurkan zakat).

Sementara infak dan sedekah disalurkan dalam bentuk program. Peruntukannya untuk lima program yakni kemiskinan, kesehatan, ekonomi, dakwah, dan kemanusiaan.

"Misalnya, kalau ada masjid yang rusak, bisa dibantu menggunakan dana ini. Jadi masuknya nanti ke program dakwah," pungkas Edy.(mel/dan)

Disunting kembali oleh: Satya Eka Pangestu

Editor : Aditya Novrian
#Berita Terbaru #perolehan #zakat 2026 #Kota Malang #Potensi Zakat