Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Merekam Indahnya Toleransi saat Ramadan di Kampung-kampung Heterogen (2)

Bayu Mulya Putra • Selasa, 3 Maret 2026 | 10:26 WIB

BEDA DAN TETAP BERSAMA: Gang Kesatria di Kelurahan Sukoharjo, Klojen dihuni sekitar 50 keluarga yang mayoritas non-Muslim. Foto kanan, santri-santri Ponpes Darul Makin di kampung itu melakukan tadarus
BEDA DAN TETAP BERSAMA: Gang Kesatria di Kelurahan Sukoharjo, Klojen dihuni sekitar 50 keluarga yang mayoritas non-Muslim. Foto kanan, santri-santri Ponpes Darul Makin di kampung itu melakukan tadarus

Santri di Gang Kesatria Kecilkan Volume Sound saat Tadarus

 

HANYA ada sekitar 50 kartu keluarga (KK) yang tercatat menempati Gang Kesatria di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Mayoritas penduduknya beragama Katolik dan Kristen. Warga yang beragam Islam juga ada. Jumlahnya empat KK (kartu keluarga).

Salah satunya yakni KK yang dikepalai Faiq, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Makin. Ponpes itu sudah berdiri 13 tahun di tengah kampung heterogen tersebut. Bangunan pondok itu berhadapan langsung dengan sisa-sisa lampu lampion bekas perayaan Hari Raya Imlek.

Tiap bulan puasa, aktivitas santri-santrinya berjalan seperti biasa. Mereka tetap mengkaji kitab-kitab kuning hingga tadarus Alquran dengan pengeras suara. ”Kegiatan mengaji dengan pengeras suara hanya sebentar saja, dan volumenya masih bisa dimaklumi,” ujar Faiq.

BEDA DAN TETAP BERSAMA: Gang Kesatria di Kelurahan Sukoharjo, Klojen dihuni sekitar 50 keluarga yang mayoritas non-Muslim. Foto kanan, santri-santri Ponpes Darul Makin di kampung itu melakukan tadarus
BEDA DAN TETAP BERSAMA: Gang Kesatria di Kelurahan Sukoharjo, Klojen dihuni sekitar 50 keluarga yang mayoritas non-Muslim. Foto kanan, santri-santri Ponpes Darul Makin di kampung itu melakukan tadarus

Biasanya, tadarus dengan pengeras suara itu dimulai setelah salat Tarawih. Sekitar pukul 20.00 dan berakhir pukul 22.00. Selanjutnya, santri belajar mandiri mempelajari kitab kuning. Pembatasan mengaji dengan pengeras suara itu dilakukan Faiq untuk menghormati tetangganya yang mayoritas non-Muslim. Meski sebenarnya tetangganya tidak keberatan.

Faiq tetap ingin menghidupkan suasana Ramadan di pondok pesantrennya. Kompromi tadarus dengan suara kecil itu menjadi salah satu solusi. Dengan begitu, tetangganya bisa hidup tenang dan target mengaji di ponpes-nya tetap terjaga.

Alhasil meski dalam suasana Ramadan, gang di tengah kawasan Pasar Besar itu tetap sepi seperti biasa. Padahal, umumnya di kampung-kampung dengan mayoritas penduduk Muslim, suara mengaji atau tadarus bakal terdengar lantang. Terutama saat selesai salat lima waktu di musala atau masjid masing-masing.

Kerukunan antar-umat beragama itu tidak sebatas saling memaklumi kegiatan masing-masing. Beberapa tetangga kadang juga datang ke pondok pesantren untuk memberi sumbangan. Kadang berupa takjil atau air minum untuk para santri di sana.

Para tetangga menyalurkan bantuannya langsung kepada Faiq secara pribadi. Dia kerap menolak secara halus karena kebutuhan anak-anak di pondoknya lebih dari cukup. Namun tetangga yang mayoritas bekerja sebagai pedagang atau pemilik toko itu tetap bersikukuh.

Untuk berjaga-jaga, Faiq juga memasang banner di depan pondoknya. Berisi pesan untuk menghormati orang-orang yang berpuasa. ”Kami imbau masyarakat untuk tidak minum, makan, dan merokok terang-terangan di siang hari bulan puasa,” lanjut Faiq.

Toleransi di kawasan Pecinan itu sudah ditanamkan oleh leluhur mereka sejak puluhan tahun lalu. Saat hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha, tetangga non-muslim juga turut bersuka cita.

”Tiap tahun kami selalu menantikan arak-arakan miniatur hewan kurban pas Idul Adha,” ujar Ketua RT 02 RW 05 Kelurahan Sukoharjo Melissa Octavia.

Pawai obor dengan berbagai bentuk karya hewan tiap malam takbir itu menjadi hiburan tersendiri bagi warga. Apalagi, mayoritas penghuni di Gang Kesatria sudah berusia lanjut. Sementara generasi mudanya banyak yang sudah berpindah tempat ke luar kota.

Karena itu lah suasana di Gang Kesatria lebih sering sepi. Terlebih ketika Hari Raya Imlek tahun ini, yang hampir bersamaan dengan awal bulan Ramadan. Momen libur panjang banyak dimanfaatkan warga-warga di sana untuk mengunjungi anak dan cucu mereka.

Momen ramai penuh kebersamaan hanya tersaji pada waktu-waktu tertentu. Seperti perayaan 17 Agustus. Seringkali, Faiq atau yang biasa dipanggil Pak Ustad datang untuk memberi sambutan. Di lain waktu ketika masyarakat non-Muslim memiliki acara, warga Muslim juga ikut membantu. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#kk #malang #santri #Toleransi