MALANG KOTA-RADAR MALANG– Perubahan wajah seni kontemporer menjadi perhatian berbagai pihak. Terutama di ekosistem dan praktik seni rupa hingga kondisi sosial, budaya, dan politik yang melatarbelakanginya. Itu menjadi pemicu hadirnya pameran dari 22 seniman Kota Malang bertajuk ”Mukadimah” di Galeri Seni Artmeru, Jalan Semeru, Kecamatan Klojen yang mulai bisa dinikmati masyarakat hari ini.
Begitu masuk Artmeru, pengunjung dimanjakan berbagai karya seni dengan macam-macam objek. Mulai dari seni lukis, patung, new media art, hingga instalasi dan toys. Semua ditata dengan rapi demi satu narasi perkembangan sosial, budaya, dan politik yang mempengaruhi karya para seniman.
Pameran itu sengaja diberi judul Mukadimah yang memiliki arti pembuka. Harapannya, bisa menjadi pengantar dalam memahami cara melihat pertumbuhan dan perubahan yang terjadi di sekitar. ”Untuk itu pameran Mukadimah ini memang bertumpu pada wilayah yang mempertanyakan hubungan perubahan dunia dengan pertumbuhan seni hari ini,” ujar Sulung Anggara, Direktur Operasional Artmeru.
Pameran Mukadimah membawa bentuk interupsi terhadap realitas sosial dan medan estetika yang terjadi di sekitar. Pada upaya lainnya, pameran ini juga membaca transisi dan merekam arah kritis atas situasi dari ekosistem seni rupa yang secara khusus terjadi di Malang Raya. Itu karena, gelaran karya ini memang dikaitkan erat dengan gejala perubahan yang perlahan-lahan berkembang di dunia seni, terutama pada fenomena produksi, mediasi, dan konsumsi.
Mayoritas karya seni yang ditampilkan mewakili perkembangan pribadi para pelukis. Beberapa juga menyoroti fenomena sosial seperti ketakutan pada kelompok tertentu. Hingga mengangkat kisah ekosistem seniman yang banyak berkutat dengan minuman keras.
Salah satunya lukisan milik Antoe Budiono. Lukisan seorang ayah yang ditunggangi anaknya itu menceritakan sebuah perenungan tentang pentingnya desain kursi dalam mencapai kesuksesan. La mengajarkan tahta kekuasaan tidak hanya membutuhkan kekuatan dan visi, tetapi juga pengorbanan dan dukungan dari mereka yang berada di bawah. Dan Antoe juga mengingatkan bahwa di balik setiap kursi yang indah, ada cerita panjang tentang perjuangan, mimpi, dan beban sejarah yang harus dipikul. (aff/gp)
Editor : Galih R Prasetyo