Korban meninggal bernama Kartolo, 46, dan Supiatun, 76 (keduanya warga oleh Desa Sumberngepoh RT 05/RW01, Kecamatan Lawang), serta Muhammad Muzayin, 18, warga Desa Wajak RT 01/ RW 06 Kecamatan Wajak. Sedangkan korban yang mengalami luka tercatat atas nama Eko Heru Wahyudi, 20, warga Desa Tumpukrenteng RT 16/R 04, Kecamatan Turen.
Saksi mata di lokasi kejadian menuturkan, kecelakaan bermula saat sebuah Honda Beat melaju kencang dari arah selatan. Motor bernomor polisi itu N 2518 EED dikendarai Muzayin, berboncengan dengan Eko Heru Wahyudi.
Pada saat itu, haluan motor yang mereka kendarai tiba-tiba terlalu ke kanan. Bahkan melebihi garis marka, sehingga masuk ke jalur dari arah utara. Pada saat yang sama, dari arah berlawanan melaku motor Honda Vario dengan nopol N 5892 EAV. Motor itu dikendarai Kartolo dan membonceng Supiatun. ”Karena jaraknya sudah dekat, kedua pengendara tidak bisa menguasai kemudi. Upaya mengurangi laju kendaraan juga tak cukup waktu. Akhirnya terjadi tabrakan depan ketemu depan,” kata Kanit Laka Satlantas Polres Malang Iptu Sunarto.
Empat orang yang berada di atas motor itu pun terpental semuanya. Tiga di antaranya meninggal dengan luka parah di bagian kepala. Sedangkan satu orang selamat, namun mengalami luka pada dahi dan patah gigi. Jenazah para korban langsung dievakuasi ke RSUD Kanjuruhan di Kepanjen. Sedangkan satu korban selamat dirawat inap di RSU Mitra Delima, Bululawang.
Kerasnya tabrakan itu juga bisa dilihat dari kerusakan yang terjadi pada kedua motor yang terlibat. Bagian depan Honda Beat hancur total. Mulai dari lampu headlamp hingga seluruh bodi bagian depan. Sementara untuk Honda Vario, kerusahan tampak pada bodi bagian depan.
Rusmiani, salah seorang wraga di sekitar lokasi kejadian, mengaku mendengar benturan yang sangat keras saat tabrakan itu terjadi. Saat itu, perempuan 58 tahun itu sedang berada di dalam warung miliknya. Setelah terdengar suara benturan, dia melihat salah seorang korban laki-laki (Kartolo) tergeletak di depan pintu warungnya dengan posisi telentang.
Sedangkan perempuan lansia yang dibonceng (Supiatun) tergeletak di ujung warungnya, dekat pohon pandan dengan posisi tengkurap dan membawa banyak tempe. Di bagian lain, anak muda yang menabrak tergeletak di tengah jalan dan temannya berada di seberang jalan.
“Meninggalnya jarak berapa menit, saya kurang tahu. Tapi yang anak muda itu keluar darah terus dari mulutnya. Kalau yang bapak-bapak keluar darah juga dari hidung, mulut, dan telinga, tapi masih memakai helm,” terangnya.
Saksi mata lainnya, Sulham, 62, mengatakan pelaku yang menabrak diperkirakan habis mabuk. ”Anak muda yang meninggal dan rambutnya disemir itu mungkin habis merayakan tahun baru. Nggak tau habis mabuk di mana. Kata pak polisi bau alkohol,” ucapnya.
Dia menambahkan, salah satu anak muda yang menabrak masih sempat berjalan setelah terjadi bentuan keras.
”Yang rumahnya Ngrenteng itu masih bisa jalan. Waku ke ambulans juga dipapah. Pemuda itu yang bisa dimintai keterangan,” tambahnya. (kr2/fat) Editor : Mardi Sampurno