RADAR MALANG - Hari Valentine, yang jatuh pada 14 Februari, identik dengan coklat sebagai hadiah bagi orang terkasih, melambangkan cinta dan kasih sayang.
Namun, tradisi ini memiliki sejarah panjang.
Awalnya, Hari Valentine adalah peringatan bagi Santo Valentinus.
Seorang santo Romawi yang dieksekusi karena menentang larangan pernikahan yang diberlakukan oleh Kaisar Claudius II.
Kaisar melarang pernikahan agar para laki-laki bersedia berperang, tetapi Santo Valentinus tetap menikahkan pasangan secara rahasia.
Kisah ini terus berkembang hingga Hari Valentine menjadi simbol kasih sayang.
Biji kakao sendiri dianggap sebagai "makanan para dewa" dan telah dikonsumsi sejak zaman Mesoamerika oleh suku Aztek dan Maya.
Pada abad ke-19, coklat mulai dipasarkan dalam kotak berbentuk hati oleh Richard Cadbury, seorang penguasa asal Inggris.
Bertepatan dengan semakin populernya perayaan Valentine.
Strategi ini sukses, menjadikan coklat simbol khas Hari Valentine hingga kini.
Selain karena tren, coklat juga memiliki kandungan yang bermanfaat bagi tubuh dan dapat memengaruhi perasaan manusia.
Di antaranya, serotonin yang meningkatkan rasa bahagia, flavonoid sebagai antioksidan dan antiradang untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, serta kafein yang dapat meningkatkan energi.
Tak heran jika coklat tetap menjadi hadiah atau makanan favorit setiap Valentine. (ney)
Editor : Aditya Novrian