Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Hari Batik Nasional: Tahu Nggak, Motif Ini Dulu Cuma untuk Raja?

A. Nugroho • Kamis, 2 Oktober 2025 | 20:08 WIB
INDAH: batik bukan hanya budaya tapi juga sebagai identitas.
INDAH: batik bukan hanya budaya tapi juga sebagai identitas.

RADAR MALANG - Kebetulan hari ini adalah Hari Batik Nasional, momen di mana banyak orang memakai batik untuk merayakan salah satu warisan budaya Indonesia. Tapi kamu tahu nggak, kalau ternyata tidak semua motif batik bisa dipakai sembarangan? Ada beberapa corak yang punya aturan khusus, baik dari sisi siapa yang boleh memakainya maupun untuk acara apa batik tersebut digunakan.

Supaya lebih paham, yuk kenali beberapa corak batik beserta makna dan aturan pemakaiannya. Jadi, lain kali saat memilih batik, kamu bisa lebih bijak menyesuaikan dengan momen.

 

 

Motif ini dulu hanya boleh dipakai oleh raja dan keluarga kerajaan. Corak parang melambangkan kekuatan, keberanian, dan tekad pantang menyerah. Karena itu, batik ini dianggap sangat sakral dan tidak boleh dikenakan sembarangan.

Saat ini memang lebih fleksibel, tapi masih ada norma tidak tertulis bahwa motif parang rusak lebih pantas dipakai untuk acara resmi atau kenegaraan. Jadi, sebaiknya jangan dipakai untuk acara santai sehari-hari agar tetap menghormati nilai filosofisnya.

 

 

Batik kawung punya bentuk bulatan menyerupai buah aren atau kolang-kaling. Corak ini melambangkan kesucian, keteguhan hati, dan pengendalian diri. Dahulu, hanya bangsawan yang berhak mengenakannya karena dianggap sebagai simbol kebijaksanaan.

Sekarang, batik kawung boleh dipakai lebih luas, tapi biasanya dipakai dalam acara resmi atau pertemuan penting. Jadi, jika ingin tampil elegan dan berwibawa, motif ini bisa jadi pilihan, asalkan dipakai pada kesempatan yang tepat.

 

 

Motif ini banyak dipakai dalam acara pernikahan. Sido Mukti memiliki makna harapan agar pasangan pengantin bisa hidup bahagia, sejahtera, dan penuh berkah.

Karena maknanya sangat sakral, motif ini umumnya dipakai oleh pengantin pada hari pernikahan. Tidak etis jika dikenakan untuk acara sehari-hari karena filosofinya sudah lekat dengan prosesi pernikahan.

 

 

Motif Truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana, istri Sultan Pakubuwono III. Motif ini melambangkan cinta kasih yang tulus dan abadi. Biasanya dipakai oleh orang tua pengantin dalam acara pernikahan.

Maknanya adalah doa restu dari orang tua untuk anaknya agar rumah tangga selalu dipenuhi cinta. Oleh karena itu, motif Truntum tidak lazim dikenakan oleh sembarang orang di luar acara pernikahan.

 

 

Disebut “larangan” karena pada zaman dahulu hanya boleh dikenakan oleh raja, bangsawan, atau pejabat istana. Motifnya antara lain parang barong, parang rusak, dan sawat. Semua corak ini melambangkan kekuasaan, kebesaran, dan keagungan.

Sampai sekarang, motif larangan masih dianggap sakral. Biasanya hanya dikenakan dalam acara adat, upacara kenegaraan, atau pertemuan resmi tingkat tinggi. Jadi, motif ini memang tidak bisa dipakai sembarangan oleh masyarakat umum.

Hari Batik bukan hanya tentang memakai kain bermotif indah, tetapi juga memahami nilai di balik tiap coraknya. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tapi juga menghargai filosofi luhur yang melekat pada batik.

Mulai sekarang, sebelum memakai batik, coba perhatikan makna dan aturan motifnya. Jangan asal pilih hanya karena motifnya cantik, tapi sesuaikan dengan kesempatan agar tetap menghormati nilai budaya yang sudah diwariskan sejak lama. (fr) 

 

Editor : A. Nugroho
#rok #budaya #kain #batik