Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Demam Claw Machine Melanda Masyarakat Malang Raya: Sehari Bisa Bawa 50 Boneka Sekaligus

Aditya Novrian • Minggu, 18 Januari 2026 | 09:00 WIB

 

TERGANTUNG HOKI: Mesin capit boneka di MOG mampu menyedot animo pengunjung untuk bermain. (Nahdiatul Affandiah/Radar Malang)
TERGANTUNG HOKI: Mesin capit boneka di MOG mampu menyedot animo pengunjung untuk bermain. (Nahdiatul Affandiah/Radar Malang)

TREN mesin capit boneka juga tak hanya terjadi di Batu. Tapi juga ada di Malang Town Square (Matos) dan Mall Olympic Garden (MOG).

Keberadaan claw machine tersebut bahkan menyumbang sekitar 10 persen dari total kunjungan harian MOG. Angka yang cukup signifikan untuk sebuah wahana permainan.  Animo masyarakat terhadap permainan penuh trik ini terbilang tinggi.

Tenant Relation MOG Peptina Makdaliana menyebut, permainan mesin capit menjangkau semua kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama antusias mencoba permainan tersebut. Padahal, mesin boneka capit itu baru dipasang pada Juli 2025 lalu.

”Semua kalangan ikut bermain. Antusiasmenya tinggi sekali. Dalam waktu singkat sudah menarik ribuan pengunjung untuk mampir dan mencoba,” ujarnya.

Tak hanya dimainkan secara individual, claw machine juga kerap menjadi sarana kebersamaan. Banyak pengunjung datang bersama keluarga atau pasangan. Aktivitas mencapit boneka ini dinilai cocok untuk membangun bonding, baik antara orang tua dan anak maupun antar pasangan yang sedang berkencan.

Salah satu pengunjung, Deby Irawati, warga Kecamatan Lowokwaru, mengaku cukup sering datang ke MOG bersama anaknya hanya untuk bermain claw machine. Menurutnya, permainan ini memberi tantangan sekaligus keseruan tersendiri.

”Pernah beberapa hari lalu kami berdua main dan bawa pulang sampai 50 boneka,” kata Deby.

Dalam momen itu, Deby dan anaknya saling berbagi strategi, berdiskusi soal posisi capit, hingga menentukan target boneka berikutnya. Bahkan, dalam satu hari, keduanya pernah menghabiskan biaya hingga Rp 1,5 juta demi mengejar boneka incaran.

Deby mengakui, rasa penasaran justru muncul ketika berkali-kali gagal. Namun begitu satu boneka berhasil diambil, keinginan untuk mencoba mesin lain kembali muncul. Sensasi fokus, tegang, dan puas itulah yang membuat mereka betah berjam-jam di depan mesin.

Boneka yang disediakan pun bukan sembarang boneka. Mayoritas berkarakter lucu dengan warna-warna pastel yang estetis. Mulai dari panda, ulat, hingga pinguin. Pemilihan warna dan desain tersebut sengaja disesuaikan agar bisa menarik berbagai kelompok usia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa claw machine bukan sekadar permainan. Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, mesin capit boneka justru menjelma ruang kecil tempat orang-orang berbagi tawa, kesabaran, dan kebersamaan. Sebuah hiburan sederhana yang diam-diam menjadi candu. (aff/adn)

 

Editor : Aditya Novrian
#mesin capit boneka #mog