RADAR MALANG – Tren bekerja secara fleksibel atau remote working kini tengah menjamur di Indonesia, mengubah paradigma kerja konvensional menjadi lebih dinamis. Akhir-akhir ini Kota Malang tengah mencuri perhatian. Kali ini bukan tentang wisata dan kulinernya, melainkan Kota Malang disebut sebagai “gudang” freelancer dan IT di Indonesia.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari praktisi digital, Theo Derick, yang menyebut Kota Malang sebagai penghasil freelancer tertinggi. “Tau ga, kota yang paling banyak memproduksi freelancer dan fulltimer IT, fullstack tertinggi, Malang” ujarnya dalam podcast kanal YouTube Raymond Chin.
Kemudian Theo menjelaskan pola kerja para freelancer IT di Kota Malang. “Kerjanya di mana? Ruko gitu? Enggak, ada satu coffee shop 3 lantai di Malang, itu isinya IT developer semua” ujarnya. Menurut Theo, fenomena ini menunjukkan bahwa kebanyakan para pekerja IT di Malang mengerjakan proyek dari luar daerah mereka, sampai ke luar negeri.
Pernyataan Theo diperkuat dengan UNESCO yang resmi menetapkan Kota Malang sebagai kota kreatif dunia di bidang Media Arts. Dilansir dari detikNews, dengan menjadi salah satu dari 58 kota yang menjadi anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) dan menjadi kota pertama di Jawa Timur yang menerima pengakuan global di bidang seni dan media. Kota Malang menegaskan posisinya sebagai kota kreatif.
Keberhasilan Malang sebagai lumbung freelancer juga didukung dengan co-working space dan akses internet cepat yang terjangkau. Kombinasi biaya hidup yang bersahabat dengan kualitas udara sejuk membuat para pekerja digital betah untuk berlama-lama mengasah skill mereka.
Malang di sisi lain, mungkin menjadi tempat yang ideal bagi mereka yang bekerja secara remote karena biaya hidup yang lebih rendah daripada Jakarta, Surabaya, ataupun kota-kota besar lainnya. Banyak dari mereka memilih bekerja dari kafe, co-working space, dan rumah sambil menggarap proyek yang mencakup skala global.
Penulis: Xeon Rhao Loudra Widadi
Editor : Aditya Novrian