RADAR MALANG - Surat Al Kautsar tergolong surat pendek dalam Al Qur’an. Terdiri dari tiga ayat sebagai berikut:
1) Innaa a’thayna kal kautsar
Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.
2) Fashalli lirabbuka wanhar
Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)
3) Inna syaaniaka huwal abtar
Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)
Baca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Surat Idzaa Jaa’a Turun setelah Makkah Berhasil Dibebaskan
Ada sejumlah riwayat yang menyebutkan tentang latar belakang turunnya surat ini. Di antaranya dari Ibnu Abbas yang mengisahkan tentang Ka’b bin al Asyraf (tokoh Yahudi) yang mendatangi Makkah.
Saat itu, penduduk Quraisy berkata kepada Ka’b, “Kamu adalah pemimpin mereka orang-orang Madinah. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang pura-pura bersabar, terasing dari kaumnya, dan yang menganggap dirinya lebih baik daripada kami. Padahal, kami adalah penyambut orang-orang yang berhaji, pemberi minum mereka, dan penjaga Kakbah?
Ka’b lalu menjawab, “Kalian lebih baik daripadanya.” Kemudian, turunlah ayat ketiga surat Al Kautsar. (Hadits riwayat al Bazzar dan lainnya)
Baca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Surat Al Kafirun Turun karena Iming-Iming Kafir Quraisy kepada Nabi
Adapun riwayat dari Ikrimah menyebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, maka orang-orang Quraisy berkata, “Hubungan kita dengan Muhammad sudah terputus.” Lalu turunlah ayat 3 surat Al Kautsar. (HR Ibnu Abi Syaibah dalam kita al Mushannif dan Ibnu al Mundzir)
Sementara, riwayat dari As Suddi menyebutkan, dulu orang-orang Quraisy berpendapat bahwa jika anak lelakinya meninggal maka terputuslah keturunannya. Pada saat putra Nabi Muhammad SAW meninggal maka al ‘Ashi bin Wail berkata, “Keturunan Muhammad telah terputus.” Lalu, turunlah ayat 3 surat Al Kautsar. (HR Ibnu Abi Hatim)
Diriwayatkan juga oleh Baihaqi dalam kitab ad Dalail yang bersumber dari Muhammad bin Ali bahwa putra Nabi SAW yang meninggal itu adalah al Qasim. Mujahid berkata, ayat 3 surat Al Kautsar turun berkenaan dengan al ‘Ashi bin Wail. Dia pernah berkata, “Aku termasuk orang yang membenci Muhammad.” (HR Baihaqi)
Adapun Abi Ayyub meriwayatkan bahwa ketika Ibrahim, putra Rasulullah SAW, meninggal maka orang-orang musyrik berjalan-jalan sambil berkata kepada yang lain, “Tadi malam orang murtad ini (Muhammad) sudah terputus keturunannya.” Lalu Allah menurunkan ayat 1-3 surat Al Kautsar. (HR Thabrani) Namun, sanad hadis ini disebut dlaif (lemah).
Said bin Jubair meriwayatkan, ayat 2 surat Al Kautsar turun pada saat Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, malaikat Jibril turun kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Berkurbanlah serta shalatlah.”
Lalu, Nabi berdiri dan berkhutbah Fitri (Idul Fitri) dan Nahr (Idul Adha), kemudian beliau shalat dua rakaat. Setelah itu beliau berangkat ke tempat pemotongan hewan kurban dan menyembelihnya. (HR Ibnu Jarir)
Namun, menurut Imam As Suyuthi, hadis riwayat Ibnu Jarir tersebut gharib (hanya diriwayatkan oleh satu orang, tidak ada yang lain).
Baca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Surat An Nas dan Al Falaq Turun karena Ini
Ada lagi riwayat dari Syamr bin ‘Athiyyah yang mengatakan, dahulu ‘Uqbah bin Abi Mu’ith pernah berkata, “Anak laki-laki Nabi Muhammad SQW tidak ada seorang pun yang hidup sehingga keturunannya terputus.” Terkait peristiwa itu Allah lalu menurunkan ayat 3 surat Al Kautsar. (HR Ibnu Jarir)
Ada pula riwayat dari Ibnu Juraij yang mengatakan, telah sampai kepadaku kabar bahwa ketika Ibrahim, putra Nabi SAW, meninggal maka kaum Quraisy berkata, “Sekarang Muhammad menjadi abtar (terputus keturunannya).”
Hal ini menyebabkan Nabi Muhammad bersedih hati. Lalu turunlah ayat 1-3 surat Al Kautsar sebagai penghibur bagi beliau. (HR Ibnu al Mundzir).
Dari sejumlah riwayat di atas, bisa dirangkum bahwa asbabun nuzul surat Al Kautsar adalah sebagai berikut:
1) Kegundahan kaum muslimin Quraisy Makkah atas kelakuan kaum munafik yang sombong dan merasa lebih baik daripada mereka.
2) Tindakan kaum kafir Quraisy yang memutuskan hubungannya dengan Nabi Muhammad setelah beliau diangkat sebagai rasul dan mendapatkan wahyu.
3) Meninggalnya anak lelaki Nabi Muhammad SAW. Dalam kepercayaan orang Quraisy, jika anak lelaki meninggal maka terputuslah keturunannya (abtar). Ini yang kemudian menjadi bahan olok-olok mereka kepada Nabi.
4) Peristiwa perjanjian Hudaibiyah di mana Malaikat Jibril membawa wahyu agar Rasulullah SAW berkurban dan shalat.
*) Diolah dari Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul karya Imam Jalaluddin As Suyuthi yang dialihbahasakan menjadi Asbabun Nuzul, Latar Belakang Turunnya Ayat-Ayat Al Qur’an terjemahan Zenal Mutaqin dkk.
Editor : Tauhid Wijaya