RADAR MALANG- Sering wira-wiri atau bahkan bermukim di Makkah dan Madinah? Ini pun harus berhati-hati, pesan Imam Al Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin. Sebab, meski keduanya merupakan kota suci, kita bisa tertipu atau kecele karenanya.
Di antara bentuknya adalah merasa bahwa tinggal di kedua kota suci tersebut akan lebih dekat kepada Allah. Sehingga, mudah memperoleh rahmat dan ampunan. Padahal, hatinya tidak dijaga dan tidak dibersihkan dari penyakit-penyakitnya. Tubuhnya dibiarkan penuh noda karena enggan meninggalkan kemaksiatan.
Akan lebih buruk jika hatinya tetap terikat di negeri asal. Jika ada kawan mengatakan bahwa ia bermukim di Makkah, dengan cepat dan bangga dirinya akan menyahut, “Betul, saya di Makkah sekian tahun.”
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Awas! Ibadah Pun Bisa Tertipu, Ini 3 Golongannya Menurut Al Ghazali
Padahal, apa yang dilakukan selama tinggal di sana? Bukan untuk mencari ilmu atau menambah amal shalih. Melainkan, hanya untuk meminta belas kasihan orang lain. Itu pun dia masih berani memamerkannya.
Demikianlah golongan ketujuh dari orang yang suka beribadah namun pada hakikatnya tertipu menurut Al Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin.
Adapun golongan kedelapan adalah orang yang tertipu oleh kezuhudan. Orang seperti ini tidak peduli lagi pada harta. Pakaian dan makanan pun seadanya. Tempat tinggal cukup di masjid atau musala.
Dengan berperilaku demikian, kata Al Ghazali, mereka mengira sudah dapat mencapai tingkat kaum zahid. Yaitu, golongan orang yang menyingkirkan dunia dan lebih mementingkan akhirat.
Tapi, dalam hatinya terbersit keinginan untuk menjadi pemimpin atau mendapat kemasyhuran. Itu dilakukan dengan memamerkan penguasaannya atas ilmu, banyak memberi nasihat, atau sekadar menampakkan kezuhudannya.
Orang-orang seperti itu, tandas Al Ghazali, sebenarnya meninggalkan dua perkara yang ringan tapi menuju dua perusak yang sangat besar. Makanya, pantas disebut sebagai orang yang tertipu.
Zuhud hanya dari perilaku lahiriah. Sementara, batinnya tetap mudah memandang rendah orang lain dan suka dipuji orang lain.
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Hati-Hati! Puasa dan Haji Juga Bisa Kecele
Golongan kesembilan adalah orang yang tertipu oleh amalan lahirnya yang begitu banyak. Bukan hanya mengerjakan ibadah yang wajib, tapi juga memperbanyak ibadah-ibadah sunnah. Sementara, kebersihan hatinya tidak dijaga.
Mereka mengira dengan demikian pasti dapat ampunan dan rahmat dari Allah. Amalan lahirnya akan mampu memperberat timbangan kebaikannya. Padahal, Al Ghazali mengingatkan, orang seperti ini justru tidak sunyi dari akhlak yang buruk. Seperti suka pujian dan pamer.
Seandainya saja ada orang yang memujinya dan mengatakan, “Anda ini seorang waliyullah,” maka ia akan tersenyum bangga. Lalu, semakin mengkhusyuk-khusyukkan ibadahnya dan senantiasa menundukkan kepala dalam melangkah.
Ia merasa Allah benar-benar sudah meridhainya. Padahal, ia tidak sadar, bahwa pandangan orang lain yang memujinya hanya karena mereka belum mengetahui apa yang tersembunyi dalam benaknya.
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Awas! Takabur Bisa Seret Tiga Sifat Buruk Berikut Ini
Golongan kesepuluh adalah mereka yang gemar sekali mengerjakan amalan sunnah, tapi seringkali lalai dalam menjalankan yang wajib. Misalnya, suka sekali melaksanakan salat dhuha atau salat malam. Bahkan, hampir tidak pernah meninggalkannya.
Tapi, seolah mereka tidak bisa merasakan nikmatnya salat-salat wajib. Tidak pula menyegerakan pelaksanaannya di awal waktu.
Menurut Al Ghazali, untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang paling utama adalah dengan menunaikan segala yang wajib terlebih dahulu dengan sempurna dan cara terbaik. Jika masih kuasa, bolehlah diteruskan dengan amalan-amalan sunat untuk lebih mendekatkan lagi. Bukan sebaliknya.
*) Disarikan dari Mau’idhatul Muslimin min Ihya’ ‘Ulumuddin karya Syaikh Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Ad Dimasyqi yang merupakan ringkasan dari Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali, terjemahan Moh. Abdai Rathomy.
Editor : Tauhid Wijaya