MALANG, RADAR MALANG – Banyak orang menganggap sikap suka membantu, sulit menolak, dan selalu berusaha menyenangkan orang lain sebagai tanda kebaikan. Namun, di balik kebiasaan tersebut, ada kondisi yang dikenal sebagai people pleaser. Fenomena ini belakangan ramai diperbincangkan di media sosial karena banyak anak muda merasa mengalaminya.
People pleaser merupakan perilaku ketika seseorang selalu mengutamakan kebutuhan orang lain hingga mengabaikan dirinya sendiri. Mereka cenderung sulit berkata tidak, takut mengecewakan orang lain, dan merasa bersalah ketika tidak bisa membantu.
Kondisi ini sering terjadi di lingkungan pertemanan, organisasi, kampus, hingga hubungan asmara. Misalnya, seorang mahasiswa yang selalu menerima ajakan mengerjakan tugas kelompok, menjadi panitia kegiatan, hingga membantu teman, padahal dirinya sendiri sedang kelelahan dan memiliki tugas yang menumpuk.
Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memicu stres, kelelahan emosional, bahkan kehilangan jati diri karena seseorang terlalu fokus memenuhi ekspektasi orang lain.
Beberapa tanda seseorang menjadi people pleaser antara lain sulit menolak permintaan, terlalu sering meminta maaf, takut terjadi konflik, serta merasa berharga hanya ketika dirinya dibutuhkan orang lain.
Psikolog juga menyebut perilaku ini dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, pola asuh yang menuntut, hingga rendahnya rasa percaya diri. Seseorang yang terbiasa mendapatkan apresiasi hanya ketika menuruti keinginan orang lain berpotensi membawa pola tersebut hingga dewasa.
Sebagai contoh, seorang karyawan muda mungkin tetap menerima pekerjaan tambahan dari atasannya meskipun jam kerjanya sudah selesai. Ia takut dianggap tidak kompeten jika menolak. Padahal, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental dan keseimbangan hidup.
Untuk mengatasinya, seseorang dapat mulai memberi jeda sebelum menjawab permintaan orang lain, belajar menetapkan batasan diri, dan memahami bahwa mengatakan tidak bukanlah tindakan egois.
Membantu orang lain memang hal yang baik. Namun, terus-menerus mengorbankan diri demi menyenangkan semua orang justru dapat membuat seseorang kehilangan waktu, energi, dan kebahagiaannya sendiri.
Baca Juga: Bediding Datang, Warga Malang Kembali Berburu Selimut Tebal
Editor : Aditya Novrian