MALANG, RADAR MALANG – Harga emas kembali menjadi perhatian publik setelah mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Harga emas dunia bahkan sempat menembus level psikologis US$4.000 per troy ons, level terendah sejak akhir 2025. Kondisi ini membuat sebagian investor mulai khawatir, sementara sebagian lainnya justru melihatnya sebagai peluang untuk membeli.
Tekanan terhadap emas datang dari penguatan dolar Amerika Serikat dan ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi tersebut membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik bagi investor.
Di pasar domestik, harga emas batangan juga mengalami koreksi. Selisih harga jual dan buyback yang cukup lebar membuat sebagian pemegang emas memilih untuk menahan aset mereka sambil menunggu kondisi pasar membaik.
Baca Juga: Tekel Horor Patahkan Kaki Ismaël Koné, FIFA Hukum Pemain Qatar Assim Madibo 5 Laga
Di sisi lain, penurunan harga justru dianggap sebagai kesempatan oleh sebagian investor jangka panjang. Beberapa analis memperkirakan apabila level US$4.000 gagal bertahan, harga emas masih berpotensi turun menuju kisaran US$3.700 hingga US$3.500 per troy ons. Jika dikonversi ke harga domestik, emas berpotensi bergerak menuju kisaran Rp2 juta per gram.
Meski demikian, tidak semua pihak melihat situasi ini secara negatif. Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai yang memiliki siklus naik dan turun. Investor yang berorientasi jangka panjang umumnya memilih menunggu dibanding melakukan penjualan saat harga sedang melemah.
Dengan kondisi pasar yang masih bergejolak, pergerakan emas diperkirakan tetap fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Bagi pemilik emas, kesabaran menjadi kunci. Sementara bagi calon pembeli, koreksi harga saat ini bisa menjadi momentum untuk mulai mengakumulasi emas secara bertahap.
Baca Juga: Seminar Pindar di Unisma Ramai Diperdebatkan, APFI Sebut Fokus pada Literasi Keuangan
Editor : Aditya Novrian