Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Surat Ad Dhuha Turun ketika Malaikat Jibril Lama Tidak Bawakan Wahyu untuk Nabi

Tauhid Wijaya • Jumat, 10 Juli 2026 | 03:30 WIB
MATAHARI NAIK SEPENGGALAH: Surat Ad Dhuha merupakan surat ke-93 dalam Al Qur
MATAHARI NAIK SEPENGGALAH: Surat Ad Dhuha merupakan surat ke-93 dalam Al Qur'an dan terdiri dari sebelas ayat.

 

RADAR MALANG- Surat Ad Dhuha merupakan surat ke-93 dalam Al Qur’an dan terdiri dari sebelas ayat. Ada sejumlah riwayat yang menerangkan latar belakang turunnya surat ini. 

Di antaranya adalah riwayat dari Jundub. Ia menceritakan bahwa suatu saat Nabi Muhammad SAW merasa tidak enak badan. Hal itu menyebabkan beliau tidak bisa salat malam hingga satu-dua malam.

Mengetahui hal itu, datanglah seorang wanita ke rumah beliau sambil berkata, “Wahai Muhammad, aku melihat setanmu (maksudnya Malaikat Jibril) telah meninggalkanmu.” Atas hal ini, Allah lalu menurunkan ayat 1-3 surat Ad Dhuha. (HR Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Surat Al Insyirah Turun untuk Lapangkan Hati Umat Muslim dari Hal Ini

Jadi, berdasar riwayat itu, turunnya surat Ad Dhuha dilatarbelakangi oleh olok-olok seorang perempuan kafir kepada Nabi SAW. Yakni, bahwa beliau sudah ditinggalkan oleh Malaikat Jibril. Maka, surat Ad Dhuha turun sebagai jawaban atas olok-olok itu. 

Dalam riwayat lain, perempuan kafir itu adalah istri Abu Lahab. Riwayat itu disampaikan oleh Zaid bin Arqam. Ia mengatakan bahwa sudah beberapa hari lamanya Malaikat Jibril tidak datang kepada Rasulullah SAW. Maka datanglah Ummul Jamil, istri Abu Lahab, yang mengolok-oloknya, “Sungguh, Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.” Lalu, turunlah ayat 1-3 surat Ad Dhuha. (HR Sa’id bin Manshur dan Al Faryabi)

Baca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Al ‘Alaq Ayat 6-19 Turun karena Abu Jahal Ancam Nabi yang Sedang Salat

Adapun riwayat dari Khaulah (nenek Hafshah), pembantu Rasulullah SAW, menyebutkan bahwa Malaikat Jibril tidak datang kepada Nabi karena ada seekor anjing yang masuk ke rumah beliau. 

Khaulah mengatakan bahwa anjing itu mendekam di bawah ranjang Nabi hingga mati. Saat itu sudah empat hari lamanya wahyu tidak turun. Rasulullah lalu bertanya, “Wahai Khaulah, apa yang terjadi dalam rumahku sehingga Malaikat Jibril tidak mendatangiku?”

Aku (Khaulah) lalu menjawab, “Pada saat saya menyapu dan membersihkan rumah, tidak sengaja ikut menyapu seekor anak anjing yang mati di bawah ranjang. Saya lalu mengambil bangkai anak anjing itu.”

Bersamaan dengan itu, Khaulah mengaku melihat tubuh Rasulullah SAW gemetar kedinginan meskipun sedang mengenakan jubah. “Jika wahyu akan turun, biasanya tubuh beliau memang gemetar seperti itu,” katanya. Lalu, turunlah ayat 1-5 surat Ad Dhuha. (HR Thabrani, Ibnu Abi Syaibah dalam musnadnya, Al Wahidi, dan lainnya).

Tapi, mengutip komentar Al Hafizh Ibnu Hajar, Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul mengatakan bahwa riwayat di atas meragukan.

Al Hafizh ibnu Hajar mengatakan bahwa lambatnya Malaikat Jibril turun kepada Rasulullah SAW karena matinya seekor anak anjing memang sangat masyhur.

Namun, bila dijadikan alasan turunnya surat Ad Dhuha sangatlah gharib (pada satu tingkatan, perawi alias periwayatnya hanya seorang sehingga kurang kuat). Bahkan, syadz (bertentangan dengan keterangan dari perawi lain yang lebih kuat dan terpercaya) dan terbantah oleh riwayat yang tertulis dalam kitab Shahih Bukhari.

Baca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Surat Al ‘Adiyat Turun saat Nabi Mengkhawatirkan Nasib Pasukan Berkudanya

Riwayat lain menyebutkan bahwa surat Ad Dhuha dilatarbelakangi kecemasan Nabi karena wahyu lama tidak turun. Hal itu menjadi perhatian Khadijah, istri beliau. “Mungkin Tuhanmu marah kepadamu,” katanya, menenangkan, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Syaddad. Lalu, turunlah ayat 1-5 surat Ad Dhuha. (HR Ibnu Jarir)

Keterangan ini serupa dengan riwayat ‘Urwah yang berkata bahwa Nabi SAW cemas karena sudah lama Malaikat Jibril tidak turun membawakan wahyu untuknya. Melihat hal itu, Khadijah lalu mencoba menenangkan, “Aku beranggapan bahwa Tuhanmu sedang marah kepadamu karena kecemasanmu itu.” Lalu, turunlah ayat 1-5 surat Ad Dhuha. (HR Ibnu Jarir)

Baca Juga: Mengenal Kitab Asbabun Nuzul Karya As Suyuthi, Tidak Setuju Peristiwa Pasukan Gajah sebagai Sebab Turunnya Surat Al Fiil

Menurut As Suyuthi, kedua hadis riwayat Ibnu Jarir di atas mursal (rantai periwayatannya terputus pada tingkat sahabat). Namun, para perawi (orang yang meriwayatkan)-nya kuat. 

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa kedua riwayat hadis di atas (riwayat Hakim dan Ibnu Jarir) jelas. Yaitu, dari Ummu Jamil dan Khadijah. Ummu Jamil berkata karena dendamnya sedangkan Khadijah karena kecemasannya.

Sementara, Ibnu Abbas mengungkapkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku bahwa setelah aku, umatku akan mendapatkan berbagai kemenangan, sehingga aku pun bergembira karenanya.” Lalu, Allah menurunkan ayat 4 surat Ad Dhuha. (HR Thabrani dalam kitab Al Ausath). Kata As Suyuthi, isnad (daftar perawi) hadis ini hasan alias memenuhi syarat.

Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah SAW telah dijanjikan dengan berbagai kemenangan bagi umatnya, yaitu melenyapkan kekufuran hingga beliau merasa gembira karenanya.” Maka Allah menurunkan ayat 5 surat Ad Dhuha. (HR Hakim, Baihaqi dalam kitab Ad Dalail, Thabrani, dan lainnya).

 

*) Dikutip dari Asbabun Nuzul, Latar Belakang Turunnya Ayat-Ayat Al Qur'an, terjemahan Zenal Mutaqin dkk dari Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul karya Imam Jalaluddin As Suyuthi.

 

Editor : Tauhid Wijaya
#ngaji jumat #asbabun nuzul #imam as suyuthi #surat ad dhuha