MALANG, RADAR MALANG – Sound horeg belakangan menjadi salah satu fenomena budaya paling ramai diperbincangkan di Jawa Timur. Di balik kontroversi soal kebisingan, ternyata ada banyak fakta yang belum banyak diketahui publik, mulai dari asal-usul istilahnya, sejarah kemunculannya, hingga budaya kompetisi yang menjadi bagian dari perkembangannya.
Istilah "Horeg" Berasal dari Bahasa Jawa
Kata horeg ternyata bukan istilah baru yang muncul di era media sosial. Dalam Kamus Bahasa Jawa-Indonesia (KBJI) terbitan Kemendikbud, horeg berarti bergerak, berguncang, atau bergetar. Makna tersebut kemudian identik dengan efek getaran yang dihasilkan susunan speaker berdaya besar saat memainkan suara bass berintensitas tinggi.
Seiring waktu, istilah itu digunakan masyarakat untuk menyebut sistem audio berukuran besar yang mampu menghasilkan dentuman kuat hingga membuat tanah dan bangunan di sekitarnya terasa bergetar.
Memiliki Dua Versi Asal Usul
Asal mula sound horeg masih menjadi perdebatan. Salah satu versi menyebut fenomena ini mulai berkembang di Kabupaten Malang sekitar 2014, ketika sistem audio berukuran besar digunakan dalam pawai dan perlahan berubah menjadi hiburan jalanan.
Versi lain menelusuri akarnya ke Banyuwangi melalui tradisi adu sound. Tradisi tersebut mempertemukan beberapa kelompok sound system untuk menguji kualitas audio dan kekuatan suara, terutama saat perayaan malam takbiran. Sejumlah pelaku sound system menyebut praktik ini telah berlangsung jauh sebelum istilah sound horeg viral di media sosial.
Nama Edi Sound Kerap Dikaitkan dengan Awal Perkembangan
Di kalangan pegiat sound system, nama Edi Sound sering disebut sebagai salah satu sosok yang berperan dalam perkembangan awal konsep sound horeg di Jawa Timur.
Pada masa awal kemunculannya, sistem audio berukuran besar lebih banyak dimanfaatkan sebagai pengeras suara untuk kegiatan masyarakat seperti selawatan maupun pengumuman desa. Seiring berkembangnya teknologi audio dan budaya hiburan jalanan, penggunaannya berubah menjadi pertunjukan yang lebih atraktif.
Battle Sound Jadi Identitas Komunitas
Salah satu ciri khas yang membedakan sound horeg dengan penggunaan sound system biasa adalah adanya budaya battle sound.
Dalam ajang ini, beberapa kelompok sound system berkumpul untuk membandingkan kualitas audio, konfigurasi perangkat, hingga kekuatan bass yang dihasilkan. Bagi komunitasnya, kompetisi tersebut menjadi ruang menunjukkan kemampuan teknis sekaligus membangun gengsi antarkelompok.
Karena itu, battle sound dipandang sebagai salah satu identitas utama dalam budaya sound horeg.
Musik yang Diputar Tidak Hanya Dangdut
Sound horeg juga kerap diasosiasikan dengan musik dangdut koplo. Padahal, genre yang dimainkan jauh lebih beragam.
Mulai dari remix DJ, house music, campursari, hingga musik elektronik menjadi bagian dari playlist yang biasa diputar. Dalam beberapa tahun terakhir, musik remix dan DJ bahkan menjadi genre yang paling sering digunakan dalam berbagai battle sound.
Melahirkan Komunitas dan Peluang Ekonomi
Fenomena ini turut melahirkan komunitas yang dikenal dengan sebutan masyarakat horeg, yaitu kelompok penikmat sekaligus pelaku aktivitas sound system di berbagai daerah.
Di sisi lain, berkembangnya sound horeg juga membuka peluang ekonomi. Jasa penyewaan perangkat audio berkapasitas besar untuk hajatan, pawai, maupun festival disebut dapat mencapai tarif hingga puluhan juta rupiah, tergantung ukuran sistem dan kebutuhan acara.
Fenomena yang Punya Fungsi Sosial
Di luar berbagai kontroversi, sejumlah akademisi melihat sound horeg memiliki fungsi sosial di tengah masyarakat.
Fenomena ini dinilai bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang berkumpul, membangun identitas komunitas, hingga menjadi media ekspresi bagi para pelakunya. Perspektif tersebut menunjukkan bahwa sound horeg merupakan fenomena budaya yang memiliki sisi lebih kompleks daripada sekadar persoalan kebisingan.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber