Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengintip Campur Tangan Tuhan di Jalan Hidup Gubes FEB UB

Shuvia Rahma • Selasa, 6 April 2021 | 02:07 WIB
Prof Dr Moh Khusaini SE MSi MA (Rofia Ismania / Radar Malang)
Prof Dr Moh Khusaini SE MSi MA (Rofia Ismania / Radar Malang)
Campur tangan Tuhan sangat kentara mewarnai perjalanan hidup Prof Dr Moh Khusaini SE MSi MA. Sejak menempuh pendidikan Sarjana (S1), Magister (S2) dan Doktoral (S3), semuanya didapatkan dengan jalan beasiswa, hingga saat ini meraih gelar akademik tertinggi sebagai guru besar bidang Keuangan Publik di FEB UB.


Mohamad Khusaini muda masuk ke Kota Malang pada tahun 1991. Kala itu, selepas lulus dari sekolah menengah atas (SMA) di Pandaan, Pasuruan, dia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Sebagai anak kampung yang berasal dari keluarga pas-pasan, ada kekhawatiran besar yang menyergapnya. Terutama soal biaya kuliah dan biaya hidup di kota pendidikan ini.

Tak ingin membebani keluarga, putra ketiga dari lima bersaudara itu pun memutuskan menjadi marbot (pengurus masjid) sekaligus memberikan kursus privat bahasa inggris untuk beberapa putra-putri dosen brawijaya yang rumahnya berada di komplek perumahan dosen sekitar Masjid Ibnu Sina Jalan Veteran.

Sebagai pemuda kampung yang dibesarkan dalam keluarga santri, dia pun sering menghabiskan waktu di masjid, terutama saat waktu shalat tiba. Rutinitas di masjid membuatnya kenal dengan pengurus masjid dan menawarkan untuk ikut membantu mengurus masjid dan sekaligus tinggal di masjid tersebut.

“awal kuliah di Malang, saya memang tidak punya tempat kos, melainkan numpang di kosnya teman-teman kuliah secara bergantian. Kebetulan ada kakak kelasnya ketika SMA yang juga diterima di UB, sehingga banyak teman yang membantu,” kisah Khusaini seraya mengingat kembali masa lalunya.

Sejak itulah, Khusaini muda menjadi marbot di salah satu masjid di kompleks Perumahan dosen UB, yaitu Masjid Ibnu Sina. Bangun sebelum azan Subuh, membuka semua pintu masjid, menyapu, dan mengepel lantai masjid menjadi rutinitasnya sehari-hari.

“Ada dua ruangan kecil di bagian depan masjid. Di situlah saya tidur. Beralaskan karpet yang setengahnya digulung untuk bantal,” kenang dia.

“Saya tidak sendirian, ada tiga teman lain seperjuangan yang juga menjadi penjaga sekaligus pengurus masjid tersebut. Satu dari UIN Malang, satu kuliah di UMM dan dua lainnya Universitas Negeri Malang (UM),” ucap dia.

Dengan menjadi marbot, satu beban hidupnya teratasi. Dia tidak lagi memikirkan biaya kos. Konsentrasinya hanya tinggal untuk mencari cara membiayai kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Dan itu pun, teratasi dengan honor yang diterima sebagai guru privat Bahasa Inggris plus beasiswa yang didapatkan dari kampus. Awalnya agak terasa aneh ketika teman-teman kuliah Khusaini bertanya di mana tempat kosnya. Namun lama kelamaan, hal itu menjadi biasa dan membantu mengurus masjid adalah tugas yang mulia.

“Bahkan sampai lulus kuliah, orang tua saya tidak tahu kalau saya tinggal di masjid, dan baru tahu ketika saya wisuda,” ujar suami dari Eli Ermawati, SE tersebut.

Begitu lulus, niat hati ingin mencari pekerjaan. Tapi lagi-lagi Tuhan sangat baik kepadanya. Karena Khusaini mendapatkan beasiswa studi lanjut S2 bidang administrasi bisnis. Dua tahun lulus, dirinya mendapatkan beasiswa S2 lagi dari USAID untuk studi lanjut di Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University, USA dibidang Economics.

Dua tahun di USA, Khusaini kembali ke Malang dan menempuh S3 bidang ekonomi di Universitas Brawijaya. Hingga saat ini, capaian akademik tertingginya sebagi guru besar bidang keuangan publik diperolehnya pada akhir 2019 lalu.

“Selain dosen, saya saat ini diamanahi sebagai wakil dekan III bidang kemahasiswaan. Posisi itu membuat saya sering berinteraksi dengan para mahasiswa dengan berbagai persoalan yang dihadapi,” bebernya.

Tidak hanya bersinggungan dengan prestasi dari kompetisi akademik-nonakademik, tapi juga membuatnya memahami berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa. Apalagi, mereka berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Mengaca dari masa lalunya yang tak mudah, ayah empat anak itu pun selalu berusaha memberikan motivasi dan mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa, terutama kepada mereka yang berlatar belakang ekonomi pas-pasan.

Salah satunya dengan mendirikan rumah tahfidz yang kini sedang dirintisnya. Di rumah tahfidz itu, dia mewadahi mahasiswa kurang mampu untuk tinggal di rumah tersebut sekaligus bisa belajar Alquran karena terdapat tiga orang mahasiswa Hafiz (hafal Alquran) yang mengelolanya dengan sukarela. Dengan demikian para mahasiswa yang kurang mampu bisa belajar dengan tenang tanpa memikirkan biaya kos dan biaya hidup sehari-hari.

“Rumah tahfiz yang saya rintis tersebut saat pandemi covid 19 masih saya renovasi dan nanti ada beberapa mentor yang saya tempatkan di sana untuk membimbing para mahasiswa belajar ilmu agama islam dan khususnya belajar Alquran,” tandas Khusaini.



Pewarta: Neny Fitrin Editor : Shuvia Rahma
#JPRM #feb ub #prof khusaeni #gubes ub