Sebelum pandemi Covid-19, Wisata Rowo Klampok di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung termasuk banyak dikunjungi wisatawan. Dalam satu hari, pengunjung yang datang bisa mencapai 500 orang, bahkan lebih. Sayangnya, kondisi tersebut hanya bertahan sekitar 2 tahun. Pascapandemi Covid-19, kunjungan terus menurun. Bahkan sering juga tidak ada pengunjung yang datang.
"Saat libur Lebaran ini paling banyak mungkin 50 orang per hari. Kalau lagi sepi, ya, tidak ada yang datang sama sekali," ujar karyawan Kafe Apung Rowo Klampok Sunaryo.
Saking sepinya, beberapa fasilitas penunjang sudah tidak berfungsi. Seperti permainan bebek-bebekan yang sebelumnya berjumlah delapan unit, kini tersisa empat unit. "Kondisinya sebenarnya masih bagus dan bisa berfungsi. Karena sepi pengunjung, jadinya empat unit lainnya dijual," kata dia.
Selain itu, perahu yang sebelumnya berjumlah empat kini juga tinggal satu. Tiga lainnya sudah rusak dan bocor hingga tidak bisa digunakan lagi. Tidak hanya fasilitas, sepinya pengunjung juga berdampak pada kesejahteraan karyawan dan pedagang sekitar. Awalnya, karyawan di sana berjumlah sekitar 90 orang dengan sistem kerja rolling. Sedangkan, saat ini hanya tersisa 45 orang.
Kepala Desa (Kades) Senggreng Rendyta Witrayani Setyawan mengakui, kondisi wisata Rowo Klampok saat ini memang perlu segera dibenahi. Untuk itu, pihaknya berupaya untuk memperbaiki tempat wisata yang sempat viral beberapa tahun silam itu. "Kami akan mengelola wisata tersebut lebih maksimal untuk menarik wisatawan datang," ujar dia.
Seperti menonjolkan makanan khas Desa Senggreng, salah satunya olahan berbahan dasar ikan mujair. "Kami juga akan memaksimalkan promosi melalui media sosial," pungkasnya. (yun/nay).
Editor : Ahmad Yani