MALANG KOTA – Setelah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP negeri rampung, SMP swasta baru leluasa berburu calon siswa. Setidaknya ada 7.180 lulusan SD yang bisa jadi perebutan seluruh SMP swasta di Kota Malang.
Sebanyak 7.180 lulusan SD tersebut ditolak masuk SMP negeri. Sebelumnya, ada sekitar 14 ribu lulusan SD mengikuti PPDB SMP negeri. Namun hanya 6.820 pendaftar saja yang diterima, sehingga sisanya 7.180 tidak lolos.
”Separo lebih bisa lari ke SMP swasta,” ujar Kabid Pengembangan Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang Dodik Teguh Pribadi kemarin.
Sebelumnya, SMP swasta sudah membuka pendaftaran. Namun lulusan SD beramai-ramai mengikuti PPDB SMP negeri, sehingga peluang SMP swasta untuk mendapatkan pendaftar relatif sulit.
Dodik menyampaikan, pagu SMP negeri bersifat paten. Sebab, sudah disesuaikan dengan jumlah rombongan belajar (rombel) secara keseluruhan di SMP negeri se-Kota Malang. ”Kami punya 30 SMP negeri. Itulah daya tampungnya,” ujarnya.
Meski ada 7.180 calon pendaftar, bisa jadi tidak semua masuk SMP swasta. Sebab masih ada dua MTs negeri di Kota Malang. Belum lagi jika ada siswa yang melanjutkan sekolah ke luar Malang. Dengan demikian, ”kue” yang jadi rebutan SMP swasta berkurang.
Ketua MKKS SMP Swasta Kota Malang Rudiyanto mengatakan, hingga saat ini SMP swasta masih berjuang memenuhi pagu masing-masing. Meski PPDB SMP negeri sudah ditutup, dia mengatakan, pendaftar di SMP swasta belum melonjak.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan pendataan kekurangan murid seperti tahun lalu. Namun saat ini SMP swasta cenderung enggan melaporkan data tersebut. ”Sebab, mereka pikir ya tidak berpengaruh pada peningkatan peminat juga,” ucapnya.
Dia menyampaikan, SMP swasta kini masih terus menunggu dan berjuang untuk mendapatkan siswa baru. Dia tak ingin kejadian tahun lalu terulang kembali. Sebab, dari 84 SMP swasta di Kota Malang, hanya 6 sekolah yang berhasil memenuhi pagunya. “Tentu saja itu sekolah-sekolah yang bonafide ya,” ucapnya.
Berdasar data MKKS, 42 SMP swasta hanya bisa mengisi pagu 40 persen. Dengan demikian, kekurangannya masih 60 persen.
Salah satu sekolah yang kekurangan murid ekstrem adalah SMP Waskita Dharma Malang. Tahun ajaran 2022/2023 sekolah tersebut hanya menerima dua siswa. Padahal pagu yang dibuka 50 kuota.
Terpisah, Kepala SMP Waskita Dharma Malang Yosia Mairin menambahkan, total siswa di sekolahnya hanya 11, mulai kelas 7 sampai 9. ”Tahun ini kami punya 2 siswa kelas 7, 2 siswa kelas 8, dan 7 siswa kelas 9,” ucapnya. (dre/dan)
Editor : Mahmudan