Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengulik Aktivitas Remaja di Malang yang Mengampanyekan Budaya Membaca

Mahmudan • Minggu, 16 Juli 2023 | 21:10 WIB

AJAK MEMBACA: Triyana Sinta Dewi (kiri) dan Farah Sajidah, dua pelopor Komunitas Duduk Baca saat di Alun-Alun Kota Malang, Minggu lalu (9/7).
AJAK MEMBACA: Triyana Sinta Dewi (kiri) dan Farah Sajidah, dua pelopor Komunitas Duduk Baca saat di Alun-Alun Kota Malang, Minggu lalu (9/7).

 

”Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan buku. Dan hanya orang gila mau mengembalikan buku”. Ungkapan pepatah itu tidak berlaku bagi Triyana dan Farah, dua remaja pendiri Komunitas Duduk Baca. Mereka justru rutin meminjamkan puluhan judul buku dalam sehari, termasuk kepada orang yang tidak dikenal.

 

ADA pemandangan tidak biasa di salah satu sudut Alun-alun Kota Malang, Jalan Merdeka, Minggu sore (9/7). Muda-mudi berkumpul sambil membaca buku. Anak-anak juga membaur di antara mereka.

Tak jauh dari mereka, ada bangku berisi tumpukan buku. Mulai dari buku bacaan untuk anak-anak, novel fiksi yang digemari remaja, nonfiksi, hingga buku parenting tersedia dan bebas dibaca siapa saja. Buku tersebut adalah milik komunitas Duduk Baca.

”Kami bawa 50 judul buku untuk dibaca siapa pun yang mau,” ujar Triyana Sinta Dewi dan Farah Sajidah, dua remaja pelopor Komunitas Duduk Baca.

Belum genap sebulan mereka mendirikan komunitas tersebut. Berawal dari hobi membaca hingga memiliki puluhan koleksi buku, Triayana dan Farah berpikir untuk meminjamkan buku tersebut ke orang lain. 

Sungguh kebiasaan yang tak biasa. Umumnya, orang enggan meminjamkan buku, bahkan pernah ada adagium ”hanya orang bodoh yang mau meminjamkan buku”. Tapi bagi mereka, buku akan lebih bermanfaat jika dipinjamkan ke orang lain.

”Buku termasuk barang yang mahal untuk dibeli. Jadi gak semua orang bisa mendapatkannya," ungkap Farah.

Mahasiswa Prodi Kebidanan Universitas Brawijaya (UB) tersebut mengingat dirinya yang sudah suka membaca sejak kecil, namun orang tuanya tidak mampu membelikan buku secara rutin. ”Hanya saat dapat ranking saja (dibelikan buku)," kenangnya.

Padahal, menurutnya kegemaran membaca sejak anak-anak harus difasilitasi dengan buku-buku bacaan. Untuk itu, salah satu tujuannya membentuk komunitas adalah agar kegemaran membaca pada anak-anak maupun orang dewasa dapat terwadahi. Selain itu, mereka yang memiliki buku juga dapat menitipkan koleksi bukunya untuk dipinjamkan. 

Awalnya, Triyana dan Farah hanya berdua. Namun setelah membagikan aktivitasnya tersebut di sosial media (medsos), banyak yang merespons. Kemudian banyak ikut serta dalam kegiatan. Pada kegiatan terakhir, sebanyak 30 orang yang bergabung dengan duduk baca.

Mereka ada yang sengaja datang karena sudah lebih tahu dari medsos. Beberapa juga pengunjung alun-alun yang tidak sengaja melihat. ”Antusias orang-orang di luar dugaan kita, ternyata banyak yang ingin gabung,” lanjut Farah.(dur/dan) 

Editor : Mahmudan
#membaca #pinjam buku cerita #Kota Malang #Literasi #alun-alun